AS Ajukan Rencana 15 Poin ke Iran untuk Redakan Konflik Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mar 2026, 11:45
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Seorang wanita berjalan di antara reruntuhan dekat Lapangan Risalat setelah serangan Israel dan AS menyebabkan kerusakan parah di Teheran timur, Iran pada 12 Maret 2026. Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri. Arsip foto - Seorang wanita berjalan di antara reruntuhan dekat Lapangan Risalat setelah serangan Israel dan AS menyebabkan kerusakan parah di Teheran timur, Iran pada 12 Maret 2026. Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah mengajukan proposal berisi 15 poin kepada Iran sebagai upaya meredakan konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah. Rencana tersebut mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari isu nuklir hingga keamanan maritim.

Menurut laporan media The New York Times yang mengutip dua pejabat terkait, proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan. Isi rencana itu meliputi langkah-langkah penanganan program nuklir Iran, pengembangan rudal balistik, serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Meski demikian, belum ada kepastian apakah Iran akan menerima tawaran tersebut. Selain itu, sikap Israel terhadap proposal ini juga belum diketahui, sementara konflik yang telah memasuki pekan keempat terus berlangsung dengan intensitas serangan yang tinggi antara kedua pihak.

Baca Juga: Serangan AS dan Israel Rusak 114 Situs Budaya Iran, Pemerintah Desak UNESCO Bertindak

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, berperan sebagai mediator penting dalam komunikasi antara Washington dan Teheran. Pemerintah Pakistan bahkan menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah perundingan apabila kedua negara menyepakati hal tersebut.

Sebelumnya, pada Senin, 23 Maret 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap fasilitas listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Keputusan itu diambil setelah adanya pembicaraan yang disebut berlangsung positif dalam dua hari terakhir antara kedua pihak.

Di sisi lain, pejabat Iran mengungkapkan bahwa mereka menerima pesan dari sejumlah negara sahabat yang menyampaikan keinginan Amerika Serikat untuk membuka jalur negosiasi guna mengakhiri konflik. Namun demikian, Teheran menegaskan tidak ada pembicaraan langsung yang dilakukan dengan Washington.

Baca Juga: Trump Klaim AS Berkomunikasi dengan Iran, Sebut Teheran Ingin Capai Kesepakatan

Sejak 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel diketahui melancarkan serangan udara terhadap Iran yang telah menyebabkan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melakukan serangan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada stabilitas pasar global dan sektor penerbangan.

(Sumber: Antara)

x|close