AS Minta Dukungan Lebih Besar Sekutu untuk Atasi Krisis Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mar 2026, 12:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Sejumlah negara sekutu Amerika Serikat mulai terlibat dalam upaya penanganan krisis di Selat Hormuz. Namun demikian, Washington masih mengharapkan partisipasi yang lebih luas dari para mitranya.

Hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, pada Rabu 25 Maret 2026.

“Kami memiliki sekutu yang akhirnya mulai bergerak … Ada sekutu kunci yang berkontribusi dan menyediakan berbagai dukungan. Kami hanya menginginkan lebih banyak lagi,” ujar Whitaker kepada media penyiaran Fox Business.

Baca Juga: Inggris Siap Pimpin Operasi Koalisi Buka Selat Hormuz

Whitaker menambahkan bahwa pemerintah AS saat ini tengah mengintensifkan pendekatan diplomatik guna mendorong negara-negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah agar ikut ambil bagian dalam meredakan krisis.

“Sayangnya, perlu upaya meyakinkan bahwa isu ini lebih penting bagi mereka dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Whitaker.

Ia juga menyoroti bahwa kondisi di Selat Hormuz yang semakin krusial berdampak langsung terhadap fluktuasi harga minyak dunia.

Sebelumnya, pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump mengimbau sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz guna menjaga keamanan jalur pelayaran.

Ia juga memperingatkan sekutu NATO mengenai potensi konsekuensi serius jika aliansi gagal mengamankan kawasan tersebut.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa saat ini belum siap mengirimkan armada militer ke wilayah tersebut.

Baca Juga: Iran Sebut Selat Hormuz Boleh Dilintasi Kecuali Kapal AS-Israel

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan.

Serangan tersebut berdampak pada terganggunya distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga energi di pasar global.

(Sumber: Antara)

x|close