Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengungkapkan bahwa Iran telah memberikan izin bagi kapal-kapal Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz. Izin tersebut diperoleh setelah Anwar melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin, termasuk dari Iran, Mesir, Turki, dan negara-negara lain di kawasan pada Kamis, 26 Maret 2026.
Dilansir dari Reuters, Kamis, 26 Maret 2026,dalm pidatonya, Anwar menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran atas izin tersebut. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tetap berkomitmen menjaga harga bahan bakar bersubsidi.
Sebelumnya, Malaysia sempat merencanakan pengurangan kuota BBM subsidi di tengah tekanan kenaikan harga minyak akibat konflik di Iran. Pemerintah berencana memangkas kuota dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan, yang akan mulai berlaku pada 1 April 2026.
Jika konsumsi masyarakat melampaui batas tersebut, maka harga yang dikenakan akan mengikuti harga pasar. Sementara itu, harga RON95 yang tidak mendapatkan subsidi tercatat telah meningkat signifikan sejak pertengahan Maret 2026.
Baca Juga: Iran Kembali Luncurkan Serangan Rudal ke Israel Bagian Tengah dan Yerusalem
Meski demikian, Anwar sebelumnya berjanji mempertahankan harga RON95 di angka 1,99 ringgit per liter, walaupun harga bahan bakar lain di Semenanjung Malaysia mengalami kenaikan seiring lonjakan harga global sejak akhir Februari 2026.
Kebijakan pembatasan kuota BBM subsidi ini diambil untuk menekan dampak fluktuasi harga akibat inflasi serta membengkaknya anggaran subsidi energi. Saat ini, beban subsidi bulanan Malaysia untuk bensin dan solar meningkat tajam menjadi 3,2 miliar ringgit dari sebelumnya 700 juta ringgit.
Ilustrasi jalur pelayaran di Selat Hormuz, Teluk Persia. (Anadolu)
Selain itu, langkah pembatasan ini juga bertujuan memperkuat pengawasan distribusi dan penegakan hukum agar pasokan energi tetap stabil. Cadangan minyak Malaysia disebut cukup aman hingga Mei 2026.
Di sisi lain, Malaysia juga mulai mencari alternatif sumber energi dari negara lain. Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof menyampaikan bahwa perusahaan energi nasional Petroliam Nasional Berhad telah menyiapkan rencana darurat untuk menjaga stabilitas pasokan.
Baca Juga: Trump Ingin Akhiri Konflik Iran Dalam Hitungan Pekan
“Petronas telah meninjau berbagai rencana untuk mencari pasokan alternatif jika gas atau minyak tidak dapat dikirim melalui wilayah yang terdampak konflik saat ini,” ujar Fadillah dikutip dari Channel News Asia.
Australia dan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik kini menjadi opsi alternatif jika distribusi energi dari wilayah konflik mengalami gangguan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan perombakan kabinet di Malaysia, Selasa, 16 Desember 2025. (ANTARA/HO-Kantor Perdana Menteri Malaysia) (Antara)