Ntvnews.id, Taheran - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Amerika Serikat terkait kemungkinan rencana operasi militer darat yang dinilai dapat memperkeruh konflik yang kini telah memasuki bulan kedua.
Dilansir dari IRNA, Senin, 30 maret 2026, dalam pernyataannya Ghalibaf menegaskan bahwa pasukan Iran telah siap menghadapi jika tentara Amerika benar-benar datang ke wilayahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengkritik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai menunjukkan sikap tidak konsisten. Di satu sisi, Trump menyatakan keinginan untuk bernegosiasi dengan Iran, namun di sisi lain justru diduga merancang serangan militer secara diam-diam.
"Musuh secara terbuka menyampaikan pesan negosiasi, namun diam-diam merencanakan serangan darat," ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.
"Pasukan kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka," paparnya menambahkan.
Baca Juga: Daftar Negara yang Kapal Tankernya Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Indonesia?
Sebelumnya, pada hari yang sama, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Pentagon tengah menyiapkan kemungkinan operasi militer darat di Iran dalam beberapa pekan ke depan.
Laporan tersebut muncul setelah militer AS mengumumkan pengerahan sekitar 3.500 personel dari 31st Marine Expeditionary Unit ke kawasan Timur Tengah. Menurut laporan The Washington Post, persiapan tersebut mencakup opsi operasi darat terbatas.
Para pejabat AS menyebut bahwa skenario ini kemungkinan tidak akan berkembang menjadi invasi besar-besaran, melainkan melibatkan pasukan khusus serta infanteri konvensional. Meski demikian, belum ada kepastian apakah Trump akan menyetujui seluruh rencana tersebut, sebagian, atau bahkan menolaknya.
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.)
Di sisi lain, nama Ghalibaf turut menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa Trump mempertimbangkannya sebagai figur potensial untuk memimpin Iran di masa depan.
Sejumlah pejabat Gedung Putih disebut memandang Ghalibaf sebagai sosok yang dapat diajak bekerja sama dan bernegosiasi. "Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial - dan bahkan pemimpin masa depan," demikian laporan Politico yang dikutip Reuters.
Namun, kabar tersebut telah dibantah oleh Ghalibaf maupun pemerintah Iran. Sebelumnya, Trump juga sempat mengklaim bahwa utusannya sedang menjalin komunikasi dengan Iran terkait konflik yang berlangsung, meski tidak menyebutkan nama pihak yang dimaksud secara rinci.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf. ANTARA/Anadolu/aa. (Antara)