Kemenkes Investigasi Kematian Tiga Dokter Magang dan Perbaiki Kebijakan RS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mar 2026, 09:20
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan dr Yuli Farianti (kiri). ANTARA/Mecca Yumna Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan dr Yuli Farianti (kiri). ANTARA/Mecca Yumna (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap seluruh Rumah Sakit (RS) wahana tempat dokter magang bertugas, serta memperbaiki kebijakan terkait magang, menyusul meninggalnya tiga dokter magang baru-baru ini.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes, Yuli Farianti, mengatakan kasus-kasus tersebut bukan disebabkan oleh kelebihan beban kerja. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap beredarnya informasi di media sosial yang menyebut dokter magang meninggal karena terlalu banyak bekerja.

"Satu, tidak ditemukan adanya indikasi kelebihan beban kerja akibat jadwal jaga. Total bekerja masing-masing ketiga ini, kurang dari 40 jam per minggu," jelas Yuli di Jakarta, Senin.

Pada kasus pertama, dokter magang yang menjalani enam bulan di RSUD Pagelaran dan enam bulan di Puskesmas Sukanagara, Cianjur, Jawa Barat, mengalami gejala demam, flu, dan batuk sejak 18 Maret 2026. Meski diberikan izin istirahat pada 19-21 Maret, peserta tetap bekerja menangani empat pasien suspek campak.

Baca Juga: Sampaikan Duka Cita Mendalam, Kemenkes Buka Suara Atas Meninggalnya Dokter Akibat Campak di Cianjur

"Pada tanggal 22-25 Maret peserta izin karena sakit dan melakukan perawatan mandiri di rumah. Pada tanggal 25 Maret ada penurunan kesadaran, sebelum akhirnya pada 26 Maret meninggal dunia dengan diagnosa akhir campak dan gangguan jantung serta otak," kata Yuli.

Kasus kedua, peserta magang mengalami nyeri, demam, dan diare pada 20-22 Februari 2026. Riwayat medis menunjukkan kemungkinan anemia. Peserta pernah diberikan izin sakit selama 25 hari pada Oktober sebelumnya.

"Diizinkan oleh pendamping bahkan 25 hari, mulai pada tanggal 2 sampai 27 Oktober, gitu. Nah pada tanggal 23 Februari 2026 ini masuk IGD Rumah Sakit Bina Bakti Husada," ungkap Yuli.

Peserta kemudian dirujuk ke RSUD Sutomo Surabaya pada 24 Maret dan meninggal dunia pada 25 Maret 2026. Menurut Yuli, penyebab pasti masih belum diketahui, namun dugaan sementara terkait anemia.

Kasus ketiga melibatkan peserta magang yang menunjukkan gejala demam pada 9 Maret, dengan hasil lab darah normal. Ia meminta izin sakit pada 10-12 Maret dan sempat menolak dirawat di rumah sakit, memilih untuk beristirahat di kos.

"12 sampai 14 Maret dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Denpasar, dengan diagnosa demam berdarah grade 2," jelas Yuli. Peserta meninggal dunia setelah terlambat dirujuk, dengan diagnosa akhir Dengue High Fever (DHF) disertai komplikasi shock.

Baca Juga: Dokter Muda UI Meninggal Diduga Karena Campak

Yuli menekankan bahwa ketiga kasus ini menjadi pelajaran penting bagi Kemenkes, RS wahana, dan para pembimbing, untuk memperbaiki kebijakan, berkomunikasi lebih aktif dengan peserta dan keluarga, mencegah perawatan mandiri, serta mengawasi peserta lebih ketat.

“Dokter magang, ada di RS wahana dalam rangka pendidikan, sehingga keselamatan mereka harus dipastikan agar dapat memberikan pelayanan yang baik,” ujar Yuli.

Ia menambahkan bahwa banyak peserta magang memiliki idealisme tinggi dan cita-cita besar, namun hal itu harus diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan mereka.

(Sumber: Antara)

 

x|close