Ntvnews.id, Teheran - Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, menegaskan bahwa pasokan bahan bakar di negaranya tetap aman meski situasi keamanan memanas akibat agresi militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Paknejad menyampaikan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan lancar. Ia juga menyebut adanya perubahan dalam kebijakan penjualan minyak yang berdampak pada peningkatan harga.
Baca Juga: Cek Fakta: Klaim AS Kerahkan 10.000 Prajurit Robot untuk Serang Iran Tidak Benar
"Tidak ada alasan untuk khawatir terhadap pasokan bahan bakar. Langkah-langkah yang diperlukan telah diterapkan di bidang ini. Masyarakat dapat yakin bahwa tidak akan ada masalah. Diskon penjualan minyak telah turun drastis. Harga jual rata-rata telah melonjak signifikan," katanya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin, 30 Maret 2026 menyatakan ancaman serius terhadap infrastruktur energi Iran.
Ia mengatakan bahwa Amerika akan menargetkan fasilitas vital seperti pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, hingga pabrik desalinasi di Iran.
Baca Juga: Parlemen Iran Setujui Rencana Tarif Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Meningkat
Ketegangan di kawasan meningkat sejak akhir Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan signifikan serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran berupaya menjaga stabilitas dalam negeri, khususnya di sektor energi, agar aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Perusahaan kilang minyak dan gas Isfahan di Iran. (ANTARA/Anadolu/pri) (Antara)