Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi militer melawan Iran telah melampaui setengah dari target yang ditetapkan. Meski demikian, ia enggan memastikan kapan konflik tersebut akan berakhir.
Dilansir dari AFP, Rabu, 1 April 2026, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Iran sejak 28 Februari. Sebagai balasan, Teheran menggempur target di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS menggunakan rudal dan drone.
"Ini jelas sudah melewati titik tengah. Tapi saya tidak ingin menetapkan jadwalnya," kata Netanyahu kepada stasiun televisi Newsmax.
Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pencapaian tersebut merujuk pada progres misi, bukan durasi waktu perang.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperkirakan operasi militer ini akan berlangsung selama 4 hingga 6 minggu. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut konflik kemungkinan hanya berlangsung beberapa minggu lagi, bukan berbulan-bulan, di tengah meningkatnya penolakan publik di AS akibat dampak ekonomi seperti lonjakan harga minyak.
Baca Juga: Iran Pastikan Pasokan BBM Aman di Tengah Ketegangan dengan AS dan Israel
Netanyahu mengeklaim bahwa berbagai tujuan militer telah tercapai, termasuk menewaskan "ribuan" anggota Garda Revolusi Iran. Ia juga menyebut Israel dan AS hampir melumpuhkan industri persenjataan Iran.
"Seluruh basis industri -- menghancurkan semuanya, Anda tahu, pembangkit listrik, seluruh pembangkit listrik, dan program nuklir itu sendiri," ucapnya.
Netanyahu dan Trump berulang kali menuding Iran berada di ambang pengembangan senjata nuklir. Namun, klaim tersebut tidak didukung oleh pengawas nuklir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa AS telah menghancurkan sejumlah situs penting melalui serangan udara pada tahun lalu.
Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Dalam pernyataannya, Netanyahu meyakini bahwa pemerintahan Iran berpotensi runtuh dari dalam, meski ia menegaskan hal tersebut bukan tujuan utama operasi militer.
"Saya pikir rezim ini akan runtuh secara internal. Tetapi saat ini, yang kita lakukan hanyalah menurunkan kapasitas militer mereka, menurunkan kapasitas rudal mereka, menurunkan kapasitas nuklir mereka dan juga melemahkan mereka dari dalam," ujarnya.
Baca Juga: G7 Gelar Pertemuan Bahas Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Perang Iran-AS Israel
Konflik ini sendiri pecah setelah otoritas Iran menindak gelombang demonstrasi besar antipemerintah di berbagai wilayah yang menewaskan ribuan orang.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump bahkan menyebut perang ini secara efektif telah menghasilkan "perubahan rezim", dengan munculnya tokoh-tokoh baru di Iran yang dinilai lebih terbuka terhadap pendekatan diplomatik.
Arsip foto - PM Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu (Antara)