Kebijakan WFH Sejalan Imbauan Badan Energi Internasional, Pengamat: Gerakan Akar Rumput Respons Isu Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Apr 2026, 18:00
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
WFH bukan berarti libur panjang. Pemerintah memastikan ASN tetap disiplin dan produktif dengan pengawasan teknologi geo-location. Kebijakan ini menjadi bagian transformasi budaya kerja sekaligus upaya efisiensi energi tanpa mengorbankan pelayanan pub WFH bukan berarti libur panjang. Pemerintah memastikan ASN tetap disiplin dan produktif dengan pengawasan teknologi geo-location. Kebijakan ini menjadi bagian transformasi budaya kerja sekaligus upaya efisiensi energi tanpa mengorbankan pelayanan pub (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Kebijakan bekerja dari rumah (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang dijalankan pemerintah dinilai sejalan dengan imbauan Badan Energi Nasional (IEA) untuk merespons kondisi global yang tengah memanas.

“WFH merupakan salah satu gerakan akar rumput dalam merespons isu geopolitik global,” kata peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, Kamis, 2 April 2026.

Metode WFH ini bahkan secara rinci dijelaskan IEA sejak 2022. Per Maret 2026, IEA menajamkan gerakan ini agar masyarakat bisa menghemat energi untuk merespons situasi global yang dinamis.

Menurut Bawono, WFH harus dilihat sebagai kebijakan terkait ketahanan ekonomi, efisiensi energi, dan respons terhadap dinamika geopolitik global.

“WFH jauh lebih filosofis dari sekadar mempertanyakan atau apriori terhadap cara kerja aparatur sipil negara (ASN),” kata Bawono.

Dia setuju pemerintah memasukkan gerakan WFA ini sebagai salah satu dari delapan langkah Pemerintah merespons isu global.

Baca Juga: Pramono Yakin WFH Bisa Kurangi Biaya BBM

“Dari delapan langkah tersebut tampak pemerintah memiliki visi untuk melindungi ketahanan energi di dalam negeri,” lanjut Bawono.

Meskipun tidak semua pekerjaan cocok untuk bekerja dari rumah, Bawono melihat WFH bisa menjadi langkah efektif apabila pekerjaan tersebut memungkinkan untuk dilakukan dari rumah.

“Jadi, bekerja dari rumah memiliki potensi untuk mengurangi konsumsi BBM kendaraan pribadi,” kata dia.

IEA merupakan organisasi antarpemerintah yang fokus mengamankan pasokan energi global, terutama minyak. Organisasi yang berpusat di Paris, Prancis, ini sudah merespons krisis energi sejak 2022 akibat perang Rusia dengan Ukraina.

Pada 18 Maret 2026, IEA memperbarui responsnya seiring meningkatkan eskalasi di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Melalui laporan berjudul “A 10-Point Plan to Cut Oil Use” IEA memberikan tahapan agar masyarakat dunia bisa resisten terhadap krisis energi.

Dalam laporan 18 halaman itu, IEA menyarankan karyawan untuk bekerja dari rumah (WFH) setidaknya tiga hari dalam seminggu. IEA menghitung WFH secara global bisa menghemat hingga 170 ribu barel minyak per hari. Jika dilakukan tiga hari, penghematannya bisa mencapai 500 ribu barel per hari.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan ASN Tak Akan Long Weekend saat WFH, Dipantau Ketat Pakai Teknologi

Kedua, IEA mengimbau masyarakat dunia untuk membatasi perjalanan udara. Menurut IEA, pengurangan perjalanan udara bisa menekan permintaan bahan bakar.

Ketiga, IEA sampai menyarankan untuk melakukan kebiasaan berkendara secara eco-driving atau irit BBM. Kecepatan dalam berkendara pun diminta dibatasi hingga batas minimal 10 kilometer per jam. Penurunan batas kecepatan bisa menghemat 5-10 persen penggunaan BBM per mobil.

IEA pun menyarankan sampai ke hal-hal teknis seperti mengecek tekanan ban, mengoptimalkan penggunaan AC, dan mengajak orang lain berkendara bersama dalam satu mobil.

Rekomendasi lain dari IEA meliputi penambahan hari untuk kebijakan hari bebas kendaraan (car free day), pengetatan sistem ganjil-genap, hingga pemakaian transportasi umum.

“Saran IEA ini hampir semuanya diadopsi oleh Pemerintah melalui kebijakan delapan transformasi budaya kerja dan gerakan hemat energi,” kata Bawono.

x|close