Ntvnews.id, Jakarta - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Untuk pertama kalinya, serangan tidak hanya menyasar target militer atau energi, tetapi langsung menghantam jantung infrastruktur digital global: pusat data.
Serangan terjadi pada Minggu dini hari (1/3/2026), ketika drone tempur Shahed milik Iran dilaporkan menyerang dua fasilitas pusat data milik Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab. Insiden ini menyebabkan gangguan luas pada berbagai layanan digital di kawasan tersebut.
Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam pola peperangan modern. Infrastruktur teknologi yang selama ini dianggap sebagai fasilitas sipil kini mulai diperlakukan sebagai target strategis.
Berbeda dari konflik sebelumnya yang didominasi serangan siber, serangan kali ini dilakukan secara fisik dan merusak langsung bangunan pusat data.
Sebelumnya, insiden serupa pernah terjadi pada 2024 ketika peretas Ukraina menyerang sistem data yang terkait dengan militer Rusia. Namun, aksi tersebut hanya berlangsung di ranah digital, bukan penghancuran fasilitas secara langsung.
Serangan di UEA ini menjadi preseden baru: pusat data komersial kini bisa dihancurkan layaknya target militer.
Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam operasi militer membuat pusat data menjadi semakin krusial.
Militer AS diketahui mengandalkan teknologi AI untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari analisis intelijen hingga perencanaan operasi. Sistem seperti Claude yang dikembangkan oleh Anthropic digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan di medan perang.
Namun, teknologi ini tidak berjalan langsung di perangkat militer seperti pesawat atau kapal. Sebagian besar proses komputasi dilakukan melalui layanan cloud seperti AWS, yang berarti pusat data komersial menjadi tulang punggung operasional.
Dengan kata lain, menyerang pusat data sama saja dengan mengganggu sistem pendukung militer modern.
Pusat data tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer. Infrastruktur ini menopang berbagai layanan digital sehari-hari, mulai dari hiburan hingga sistem keuangan.
Baca Juga: Lagi, Iran Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-35 milik AS
Sebagai contoh, layanan streaming seperti Netflix sangat bergantung pada jaringan pusat data global. Ketika fasilitas ini terganggu, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Dalam serangan di UEA, gangguan bahkan sempat merembet ke sistem perbankan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi suatu negara kini sangat bergantung pada infrastruktur digital.
Meski penting, pusat data memiliki kelemahan signifikan. Fasilitas ini umumnya berukuran besar, tidak dirancang untuk kondisi perang, dan minim perlindungan militer seperti sistem pertahanan udara.
Dalam serangan terbaru, Iran meluncurkan ribuan drone dan rudal ke berbagai target. Sebagian besar berhasil dicegat, namun beberapa tetap lolos dan menghantam fasilitas sipil, termasuk pusat data.
Sejumlah analis menilai serangan ini juga dipengaruhi faktor kemudahan. Dibandingkan target militer yang dijaga ketat, pusat data relatif lebih rentan.
Iran Ancam Raksasa Teknologi AS
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan elite Islamic Revolutionary Guard Corps mengeluarkan ancaman terbuka terhadap perusahaan teknologi Amerika.
Melalui pernyataan resminya, Iran menyebut perusahaan-perusahaan teknologi sebagai target sah dalam apa yang mereka sebut sebagai “perang teknologi tingkat tinggi”.
Sejumlah perusahaan besar yang masuk dalam daftar target antara lain Nvidia, Apple, Microsoft, hingga Google. Selain itu, nama-nama seperti Intel, Oracle, IBM, Dell, Cisco, Boeing, dan Tesla juga disebut berpotensi menjadi sasaran.
“Mulai sekarang, untuk setiap pembunuhan, satu perusahaan AS akan dihancurkan,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran seperti dikutip dari CNBC, Kamis (2/4/2026).
Ilustrasi Iran meluncurkan rudal ke arah pangkalan-pangkalan militer AS di negara Teluk. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu) (Antara)
Menanggapi ancaman tersebut, sejumlah perusahaan mulai meningkatkan pengamanan terhadap fasilitas dan karyawan mereka di kawasan Timur Tengah.
“Keselamatan dan kesejahteraan tim kami adalah prioritas utama kami. Kami mengambil langkah-langkah untuk melindungi dan mendukung para pekerja dan fasilitas kami di Timur Tengah dan secara aktif memantau situasi,” kata pihak Intel.
Serangan terhadap pusat data Amazon menegaskan satu hal: perang modern kini tidak hanya terjadi di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ranah digital.
Ketika ekonomi global semakin bergantung pada AI dan komputasi awan, pusat data berubah menjadi aset strategis yang setara dengan pangkalan militer atau kilang energi.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru. Jika infrastruktur digital terus menjadi target, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang berperang, tetapi juga oleh masyarakat global yang bergantung pada teknologi setiap hari.
Ilustrasi - Rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)