Menhut Dorong Rewetting Gambut Cegah Karhutla Saat Kemarau

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 09:50
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
(Ki-ka) Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, Wamenhut Rohmat Marzuki dalam konferensi pers rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan, di Jakarta, Senin 6 April 2026. ANTARA/Anita Permata Dewi (Ki-ka) Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, Wamenhut Rohmat Marzuki dalam konferensi pers rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan, di Jakarta, Senin 6 April 2026. ANTARA/Anita Permata Dewi (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya langkah pencegahan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau, salah satunya melalui upaya pembasahan kembali atau rewetting lahan gambut.

"OMC ini tidak hanya dilakukan pada saat terjadi kebakaran hutan, tapi juga upaya preventif dimana kita melakukan rewetting atau pembasahan terhadap terutama lahan gambut yang tinggi muka air tanahnya sudah berkurang," kata Raja Juli Antoni dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Baca Juga: BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Landa Jabar Selama Sepekan

Rewetting merupakan proses membasahi kembali lahan gambut untuk meningkatkan tinggi muka air tanah, sehingga dapat menekan potensi terjadinya kebakaran. Upaya ini dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang memanfaatkan teknologi penyemaian awan.

Pelaksanaan OMC sendiri mengacu pada data ilmiah yang disediakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih awal dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan biasanya.

"Kita akan memasuki musim kemarau, mulai di April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober," kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.

Ia menjelaskan bahwa BMKG terus memantau kondisi cuaca untuk menentukan waktu yang tepat dalam pelaksanaan OMC, khususnya saat masih tersedia awan yang dapat disemai untuk menghasilkan hujan buatan.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Pengalihan Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta

"Kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai dengan bahan semai, kemudian terjadi hujan itu dapat membasahi lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin," kata Teuku Faisal Fathani.

Dalam upaya pencegahan karhutla, Kementerian Kehutanan juga memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang rawan terdampak saat musim kemarau.

(Sumber: Antara)

x|close