Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprioritaskan pemberian vaksin campak kepada puluhan ribu tenaga medis dan tenaga kesehatan di daerah dengan kasus tertinggi sebagai langkah perlindungan terhadap kelompok berisiko tinggi.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia menyampaikan bahwa program ini menyasar 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 wilayah dengan tingkat kasus campak tertinggi.
"Kemudian juga ditambah dengan 28.321 dokter umum dan dokter gigi yang sedang internship di seluruh Indonesia," kata Lucia Rizka Andalusia di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa vaksin campak selama ini diwajibkan bagi anak melalui tiga tahap pemberian, yaitu saat usia 9 bulan, 18 bulan, dan booster ketika duduk di kelas 1 SD. Namun, meningkatnya kasus atau Kejadian Luar Biasa (KLB) mendorong pemerintah untuk melakukan langkah tambahan melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) di daerah terdampak.
Baca Juga: Dokter: Campak Bisa Sembuh Sendiri, Tapi Waspadai Komplikasi
"Nah tentunya dengan adanya KLB ini potensi penularan kepada orang berisiko tinggi dalam hal ini para nakes, yang terutama yang bekerja langsung dengan pasien ini mengalami risiko tinggi terkait dengan penularan ini," kata Lucia Rizka.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian, Kemenkes juga mengapresiasi langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang telah memberikan izin perluasan penggunaan vaksin campak produksi Bio Farma untuk orang dewasa. Program vaksinasi ini akan segera dilaksanakan sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut.
Lucia juga mengungkapkan bahwa ketersediaan vaksin campak-rubella (MR) saat ini cukup untuk mendukung program nasional.
"Saat ini ketersediaan vaksin MR yang digunakan untuk program pemerintah itu jumlahnya sekitar 9,8 juta dosis di seluruh Indonesia. Tingkat ketersediaannya kalau diukur adalah sekitar 5,5 bulan," ujarnya.
Kemenkes memantau distribusi dan kualitas vaksin secara real-time melalui Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik secara Elektronik (SMILE), serta terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan pelaksanaan vaksinasi berjalan optimal, khususnya bagi tenaga kesehatan.
Baca Juga: Infografik: Lindungi Si Kecil dari Campak dengan Imunisasi
Dalam kesempatan tersebut, Lucia juga mengingatkan pentingnya imunisasi sejak dini. Ia menekankan bahwa anak yang telah mendapatkan vaksin campak secara lengkap seharusnya memiliki perlindungan jangka panjang. Namun, masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi secara penuh.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk segera melengkapi vaksinasi anak tanpa menunggu munculnya penyakit. Upaya ini dinilai penting guna mencegah penyebaran campak secara lebih luas di masyarakat.
(Sumber: Antara)
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lucia Rizka Andalusia di Jakarta, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Mecca Yumna (Antara)