Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,7 Persen pada 2026, Masih di Atas Rata-rata Kawasan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Apr 2026, 13:17
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Suasana permukiman padat penduduk di Jakarta, Senin (27/1/2025). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.) Suasana permukiman padat penduduk di Jakarta, Senin (27/1/2025). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di angka 4,7 persen, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu 06 April 2027.

Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang diproyeksikan hanya mencapai 4,2 persen.

Kawasan ini mencakup sejumlah negara seperti China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga negara-negara kepulauan Pasifik.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menjelaskan bahwa prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh beberapa faktor global utama.

Baca Juga; Airlangga: Ekonomi Digital RI Hampir Tembus USD100 Miliar

Seperti konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi, kebijakan pembatasan perdagangan di Amerika Serikat, serta ketidakpastian arah kebijakan global. Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu faktor positif.

“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo dalam wawancara daring dari Jakarta, Rabu.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa impor bersih minyak dan gas Indonesia pada 2024 hanya sekitar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan Thailand (7 persen), Filipina (3 persen), dan Vietnam (2 persen).

Namun demikian, tekanan global tetap berpotensi memengaruhi perekonomian nasional, terutama melalui kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan beban fiskal akibat subsidi energi dan kompensasi pemerintah.

Selain itu, potensi kenaikan inflasi juga menjadi perhatian, seiring dengan meningkatnya harga minyak, pupuk yang berdampak pada harga pangan, serta semikonduktor yang memengaruhi rantai pasok industri.

Mattoo juga menyoroti bahwa meningkatnya risiko global dapat berdampak pada penurunan investasi dan konsumsi domestik.

Meski begitu, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan kembali menguat pada 2027 dengan pertumbuhan mencapai 5,2 persen.

Pemulihan tersebut diperkirakan didorong oleh peran dana kekayaan negara Danantara, peningkatan penyaluran kredit swasta melalui likuiditas yang lebih longgar, serta kebijakan pemerintah dalam memperkuat hilirisasi industri dan menarik investasi asing.

Baca Juga: Bank Dunia Dorong RI Kurangi Dominasi BUMN dan Tingkatkan Persaingan Pasar

Laporan tersebut juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang berada di kisaran 5 persen per tahun telah melampaui potensi dasarnya, didukung oleh kebijakan pemerintah.

Namun, untuk meningkatkan pertumbuhan jangka panjang, diperlukan reformasi struktural seperti penghapusan hambatan non-tarif di sektor jasa, deregulasi, serta penyederhanaan perizinan usaha guna menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif.

Sebagai perbandingan, proyeksi pertumbuhan ekonomi negara lain di kawasan pada 2026 antara lain Malaysia 4,4 persen, Filipina 3,7 persen, Thailand 1,3 persen, dan Vietnam 6,3 persen.

(Sumber: Antara)

x|close