Ntvnews.id, Jakarta - Sedikitnya 1.530 orang dilaporkan meninggal dunia di Lebanon sejak pecahnya eskalasi terbaru pada 2 Maret lalu. Data tersebut disampaikan pejabat PBB berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan setempat.
Wakil Koordinator Khusus PBB sekaligus Koordinator Kemanusiaan untuk Lebanon, Imran Riza, mengungkapkan bahwa dari total korban jiwa tersebut, terdapat 130 anak yang meninggal dunia serta 461 anak mengalami luka-luka.
"Ini tragedi sipil yang sangat besar," katanya kepada wartawan di kantor pusat PBB melalui tautan video, dikutip Kamis, 9 April 2026.
Baca Juga: Sekjen PBB Kecam Serangan Israel di Lebanon, Peringatkan Risiko bagi Gencatan Senjata AS-Iran
Riza juga menyoroti kondisi pengungsi yang dinilai telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 1,1 juta warga, atau hampir 20 persen dari total populasi Lebanon, kini terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Menurutnya, sekitar 138.000 orang saat ini tinggal di 678 lokasi penampungan kolektif. Sementara itu, lebih dari 800.000 pengungsi lainnya tersebar di berbagai komunitas penampung atau lingkungan informal dengan akses terbatas terhadap layanan dasar.
"Komunitas penampung kini mengalami tekanan yang sangat besar," imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa konflik yang terus berlangsung turut membebani infrastruktur vital dan layanan publik di Lebanon. Tercatat lebih dari 106 insiden berdampak pada sistem kesehatan, yang menyebabkan 57 tenaga medis meninggal dunia dan 158 lainnya mengalami luka.
Selain itu, sedikitnya 51 fasilitas layanan kesehatan dan enam rumah sakit terpaksa menghentikan operasional, sementara sejumlah fasilitas lainnya mengalami kerusakan akibat konflik.
"Eskalasi ini harus dihentikan," kata Riza, seraya mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk menghormati hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil, infrastruktur sipil, serta personel kemanusiaan dan medis setiap saat.
Baca Juga: Trump Tegaskan Konflik Lebanon Tak Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran
Terkait kebutuhan pendanaan darurat, Riza mengungkapkan bahwa permohonan dana sebesar 308,3 juta dolar AS untuk tiga bulan ke depan masih jauh dari terpenuhi. Hingga kini, baru sekitar sepertiga dari total kebutuhan tersebut yang berhasil dihimpun.
"Dari 308 juta dolar AS itu, baru terpenuhi sekitar sepertiganya hingga saat ini, jadi, kami sangat khawatir dengan hal tersebut," imbuhnya.
(Sumber: Antara)
Foto ini, yang diambil dengan ponsel, menunjukkan kebakaran yang disebabkan oleh serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, pada 8 April 2026. Sejauh ini, serangan Israel pada hari Rabu di seluruh Lebanon telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya, dengan lingkungan padat penduduk di ibu kota, Beirut, termasuk yang paling parah terkena dampaknya, menurut data terbaru yang diberikan oleh Pertahanan Sipil Lebanon. (ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich) (Antara)