BGN Temukan Dapur MBG di Pulo Gebang Belum Kantongi SLHS dan IPAL

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mei 2026, 16:31
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi: Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang (kanan) berbincang dengan salah seorang siswa SMK Negeri 1 Jakarta saat meninjau pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari Ilustrasi: Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang (kanan) berbincang dengan salah seorang siswa SMK Negeri 1 Jakarta saat meninjau pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 15 Pulo Gebang, Jakarta Timur, belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) maupun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Temuan tersebut didapatkan Nanik saat melakukan inspeksi mendadak pada Minggu, 10 Mei 2026 malam di dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyajikan menu Bakmi Djawa dan diduga menjadi penyebab 147 siswa mengalami gangguan pencernaan pada Jumat, 8 Mei 2026.

“Dapur atau SPPG yang menyebabkan gangguan pencernaan itu ternyata belum SLHS, belum punya IPAL (IPAL masih numpang atau di dapur sebelahnya), dan yang gila, tidak punya tempat cuci ompreng,” kata Nanik dalam unggahan Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Baca Juga: BGN Hentikan Sementara 240 SPPG karena Belum Penuhi Standar

Dalam sidak tersebut, Nanik juga menemukan bahwa SPPG 15 Pulo Gebang ternyata berada di bawah satu yayasan yang memiliki dua dapur berbeda.

“Di dapur sebelah, saat saya datang masih beroperasi. Sementara yang sebelahnya tidak beroperasi karena sudah ditangguhkan (suspend) begitu ada kejadian hari Jumat. Terus, cuci omprengnya di mana? Numpang lagi dapur sebelahnya, dan yang gilanya lagi, tidak punya steam (alat pemanas) untuk cuci ompreng,” ujarnya.

Selain masalah fasilitas sanitasi, Nanik turut menyoroti penggunaan air di dapur tersebut yang tidak memakai galon berstandar Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagaimana anjuran dari BGN pusat.

“Saya enggak membayangkan, dua dapur, satu tempat cucian ompreng, tidak ada steam ompreng, seperti apa tingkat kejorokannya. Ditambah yang lebih parah, tidak menggunakan air galon ber-SNI seperti yang disarankan oleh BGN pusat,” tuturnya.

Ia menjelaskan, sebanyak 33 siswa yang sempat menjalani perawatan akibat gangguan pencernaan kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing pada Senin, 11 Mei 2026.

Baca Juga: Kemenag Dorong Pesantren dengan 1.000 Santri Bangun Dapur MBG Mandiri

Selain melakukan evaluasi terhadap sanitasi dapur, BGN juga kembali menegaskan bahwa pihaknya telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh SPPG yang belum memiliki juru masak atau chef andal agar tidak mengolah menu berbahan dasar mi.

“Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah,” tutur Nanik.

Diketahui, para siswa mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap menu Bakmi Djawa yang disajikan bersama ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan buah semangka pada Jumat, 08 Mei 2026.

(Sumber: Antara)

x|close