Rusia Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Desak Masuk dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 09:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kremlin Kremlin (( (Antara (Xinhua) ))

Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Rusia mengecam keras serangan yang dilakukan Israel ke wilayah Lebanon di tengah berlangsungnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Moskow mendesak agar serangan tersebut dihentikan dan dimasukkan dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata.

Dilansir dari AFP, Jumat, 10 April 2026, pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam keterangan resminya, pemerintah Rusia menyebut pihaknya "sangat yakin bahwa perjanjian-perjanjian ini memiliki dimensi regional dan, khususnya, berlaku untuk Lebanon".

Dalam pernyataan terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova juga mengutuk serangan Israel ke Lebanon. Ia menegaskan bahwa "tindakan agresif semacam itu mengancam untuk menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung".

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan terus menggempur kelompok Hizbullah yang didukung Iran "di mana pun diperlukan". Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah serangan besar-besaran Israel ke Lebanon.

Baca Juga: Inggris Desak Perluasan Gencatan Senjata AS-Iran ke Lebanon

"Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan kegigihan," tulis Netanyahu melalui akun X pribadinya.

"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel -- kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," imbuhnya.

Sehari sebelumnya, Israel melancarkan serangan ke Lebanon, termasuk di pusat Beirut yang padat penduduk. Serangan ini disebut sebagai yang terbesar sejak Hizbullah yang berbasis di Lebanon terlibat dalam konflik Iran melawan AS-Israel pada awal Maret.

Ilustrasi - Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)

Militer Israel, Israel Defense Forces (IDF), menyatakan operasi tersebut merupakan gelombang serangan udara terbesar yang pernah dilakukan ke Lebanon. IDF mengklaim telah menghantam lebih dari 100 pusat komando dan target militer Hizbullah hanya dalam waktu 10 menit, dengan sasaran meliputi pinggiran selatan Beirut, wilayah Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa di bagian timur.

Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 182 orang tewas dan 890 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan terbaru tersebut.

Jumlah itu menambah total korban sejak serangan Israel dimulai enam pekan lalu, yang sebelumnya telah menewaskan sekitar 1.700 orang, termasuk 130 anak-anak di Lebanon.

x|close