Ntvnews.id, Khartoum - Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap hampir 700 warga sipil meninggal dunia akibat rangkaian serangan drone di Sudan sejak Januari lalu. PBB juga mengecam konflik berkepanjangan di negara tersebut yang kini disebut sebagai “krisis kemanusiaan terbesar di dunia”.
Memasuki tahun keempat, perang antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menelan puluhan ribu korban jiwa. Konflik ini juga memaksa lebih dari 11 juta orang mengungsi serta menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kelaparan dan krisis pangan.
"Dalam tiga bulan pertama tahun ini, hampir 700 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan-serangan drone," kata kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir dari AFP, Rabu, 15 April 2026.
Pernyataan tersebut dirilis sehari menjelang peringatan tiga tahun pecahnya perang sipil di Sudan.
Baca Juga: Serangan ke Rumah Sakit di Sudan Tewaskan 64 Orang, WHO: Fasilitas Kesehatan Tak Boleh Jadi Target
Dalam beberapa bulan terakhir, serangan drone yang terjadi hampir setiap hari telah mengganggu kehidupan masyarakat di berbagai wilayah, terutama di Kordofan Selatan yang menjadi medan pertempuran utama, serta daerah barat seperti Darfur yang berada di bawah kendali RSF.
"Jutaan orang telah diusir dari rumah-rumah mereka di seluruh Sudan dan di luar perbatasannya, dengan seluruh komunitas dikosongkan dan keluarga-keluarga dipindahkan berulang kali. Risiko ketidakstabilan regional yang lebih luas sangat tinggi," sebut Fletcher.
Ia menambahkan bahwa tiga tahun konflik telah menghancurkan negara yang sebelumnya memiliki harapan besar. Saat ini, hampir 34 juta orang sekitar dua pertiga populasi membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Fletcher juga menyoroti meningkatnya ancaman kelaparan menjelang musim paceklik, dengan ratusan ribu anak mengalami malnutrisi akut dan jutaan lainnya kehilangan akses pendidikan. Selain itu, perempuan dan anak perempuan menghadapi kekerasan seksual yang meluas dan sistemik.
Foto yang diambil pada 11 Desember 2024 menunjukkan rumah-rumah yang rusak akibat tembakan artileri di kamp pengungsian di El Fasher, Ibu Kota Negara Bagian Darfur Utara, Sudan. (Antara)
Menurutnya, pada tahun lalu pekerja kemanusiaan berhasil menjangkau 17 juta orang, sementara tahun ini ditargetkan bantuan dapat diberikan kepada 20 juta warga Sudan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa upaya tersebut masih menghadapi kendala besar dari sisi pendanaan.
"Respons tersebut sangat kekurangan dana."
"Kita membutuhkan tindakan sekarang -- untuk menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, memastikan akses ke komunitas yang paling terancam, dan mendanai respons tersebut. Peringatan yang suram dan menyedihkan ini menandai satu tahun lainnya ketika dunia gagal menghadapi ujian Sudan," tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Tetap PBB di Sudan, Denise Brown, menyampaikan bahwa dari total kebutuhan dana sebesar US$2,9 miliar untuk tahun ini, baru sekitar 16 persen yang terpenuhi. Rendahnya capaian tersebut disebabkan oleh menurunnya kontribusi bantuan internasional dari negara-negara anggota.
Arsip - Seorang bocah mencari makanan di kamp pengungsi di El Fasher, Darfur Utara, Sudan 9 Juli 2025. (ANTARA/Xinhua/HO-UNICEF/aa) (Antara)