Suriah Mulai Buka Dialog dengan Israel, Apa yang Dibahas?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Apr 2026, 09:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Kelompok bersenjata anti-rezim Bashar Al-Assad dilaporkan mulai memasuki Damaskus dari sisi selatan ibu kota Suriah pada Sabtu (7/12/2024). Kelompok itu memasuki wilayah Damaskus tengah seiring keberhasilan mereka merebut pusat kota Quneitra di barat Kelompok bersenjata anti-rezim Bashar Al-Assad dilaporkan mulai memasuki Damaskus dari sisi selatan ibu kota Suriah pada Sabtu (7/12/2024). Kelompok itu memasuki wilayah Damaskus tengah seiring keberhasilan mereka merebut pusat kota Quneitra di barat (ANTARA/Anadolu/py)

Ntvnews.id, Dasmaskus - Setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, kini Suriah mulai menunjukkan langkah serupa dengan membuka jalur dialog dengan negara tersebut.

Selama ini, Suriah belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Namun di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed Al Sharaa, Damaskus mulai mempertimbangkan pendekatan diplomatik.

Al Sharaa menyatakan pihaknya tengah membuka peluang negosiasi jangka panjang dengan Israel, khususnya terkait Dataran Tinggi Golan yang masih diduduki Tel Aviv.

Sejak ia berkuasa setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel disebut telah mengirim pasukan ke zona penyangga di Golan yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Zona ini selama ini menjadi pemisah antara kekuatan militer kedua negara.

Sharaa menegaskan Suriah ingin "membentuk aturan baru yang mengaktifkan kembali perjanjian pemisahan pasukan, atau menyepakati perjanjian baru yang menjamin keamanan kedua pihak".

"Jika kita mencapai kesepakatan, kita bisa memasuki negosiasi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah Dataran Tinggi Golan yang diduduki," kata Sharaa dalam forum diplomatik di Antalya, Turki, Jumat, dikutip dari AFP, Sabtu, 18 April 2026.

Baca Juga: Iran Buka Total Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Turun Tajam

Ia juga menilai Israel telah melanggar perjanjian penarikan pasukan tahun 1974, sehingga diperlukan kesepakatan baru yang dapat menjamin keamanan sekaligus mendorong penarikan pasukan Israel.

Sebelumnya, pada pertengahan Februari, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al Shaibani mengungkapkan bahwa negosiasi terkait perjanjian keamanan dengan Israel sedang berlangsung, meskipun belum mencakup isu Golan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa negaranya tidak berencana mengembalikan wilayah Golan yang direbut sejak Perang Arab-Israel 1967.

Langkah Suriah ini dinilai sejalan dengan tren normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab melalui kesepakatan Abraham Accords.

Sejauh ini, negara-negara Arab yang telah menjalin hubungan dengan Israel antara lain Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Maroko, dan Sudan.

x|close