Ntvnews.id, Abu Dhabi - Uni Emirat Arab berencana mengajukan kompensasi finansial kepada Amerika Serikat apabila perekonomian Abu Dhabi terguncang akibat konflik antara AS-Israel melawan Iran.
Dilansir dari Middle East Eye, Rabu, 21 April 2026, Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, dilaporkan mengusulkan kepada Menteri Keuangan AS Scott Bessent serta pejabat Federal Reserve agar Washington menyediakan skema pertukaran mata uang (currency swap line) dengan Abu Dhabi jika dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah semakin besar.
Currency swap merupakan kesepakatan antara dua bank sentral untuk saling menukar mata uang domestik dengan nilai tukar yang telah ditentukan. Skema ini memungkinkan bank sentral asing memperoleh dolar AS dengan biaya lebih rendah saat terjadi krisis keuangan atau gejolak pasar.
Usulan tersebut disampaikan Balama dalam sebuah pertemuan pekan lalu, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Menanggapi laporan itu, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett menyatakan kepada CNBC bahwa AS berpotensi memberikan bantuan finansial kepada UEA jika memang dibutuhkan.
"UEA telah menjadi sekutu yang sangat berharga sepanjang upaya ini, dan saya yakin menteri keuangan akan melakukan segala cara untuk membantu mereka jika diperlukan," kata Hassett, seperti dikutip Middle East Eye.
Baca Juga: Menlu Iran Soroti Pelanggaran Gencatan Senjata AS, Hambat Perundingan Damai
Namun demikian, Hassett menilai skema currency swap kemungkinan kecil akan direalisasikan dalam situasi saat ini, meski AS tetap terbuka untuk memberikan dukungan melalui mekanisme lain.
Permintaan UEA ini dinilai mengejutkan sejumlah analis, mengingat negara Teluk tersebut dikenal sebagai salah satu negara kaya minyak dengan cadangan dana besar.
Abu Dhabi Investment Authority sebagai dana kekayaan negara terbesar di UEA memiliki aset sekitar US$1 triliun. Selain itu, negara tersebut juga diperkirakan memiliki cadangan sekitar US$270 miliar dari hasil ekspor minyak.
Ekonom Brad Setser menyebut permintaan tersebut "agak aneh" mengingat kuatnya posisi keuangan bank sentral dan besarnya dana kekayaan negara UEA
Arsip Foto - Sebuah kapal komersial berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz, Senin (2/3/2026). ANTARA/Anadolu/as/am. (Antara)
Ia juga memperkirakan pemerintahan Presiden Donald Trump kemungkinan tidak akan menyetujui permintaan tersebut.
"Tidak ada yang secara jelas berprinsip 'Amerika diutamakan' dalam pemberian bantuan keuangan kepada salah satu kerajaan minyak terkaya hanya agar mereka tidak perlu meminjam di pasar [atau] menjual aset," kata Setser.
Meski begitu, Setser mengakui bahwa sebagian pihak di UEA merasa keberatan jika harus menanggung beban finansial dari konflik antara AS-Israel dan Iran.
Selama konflik berlangsung, UEA menjadi sasaran ribuan serangan rudal balistik dan drone dari Iran. Kondisi ini turut memengaruhi daya tarik Dubai serta memperlambat ekspor minyak dari Abu Dhabi.
Ilustrasi negara Uni Emirat Arab (UAE)./ANTARA/Anadolu/py (Antara)