Ntvnews.id, Riyadh - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman, melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden China, Xi Jinping, pada Senin, 20 April 2026 waktu setempat di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari AFP, Rabu, 22 April 2026, kedua pemimpin tersebut "membahas perkembangan terkini di kawasan tersebut dan dampaknya terhadap keamanan dan ekonomi regional dan internasional".
"Keduanya juga membahas upaya-upaya untuk meredakan ketegangan dan meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut, khususnya mengenai keamanan maritim dan implikasi ekonominya, serta dampaknya terhadap pasokan global yang vital," demikian pernyataan SPA.
Salah satu fokus utama dalam pembicaraan itu adalah Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi dunia yang terdampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Media pemerintah China melaporkan bahwa Xi menegaskan pentingnya menjaga kelancaran arus pelayaran di kawasan tersebut.
Baca Juga: Menlu Iran Soroti Pelanggaran Gencatan Senjata AS, Hambat Perundingan Damai
"Navigasi normal melalui Selat Hormuz harus dipertahankan, hal ini demi kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional," cetus Xi saat berbicara kepada MBS, seperti dikutip televisi pemerintah CCTV.
China diketahui merupakan mitra dagang utama bagi negara-negara Teluk sekaligus pembeli utama minyak Iran, yang sebagian besar distribusinya melewati Selat Hormuz.
Ilustrasi - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran, yang dirilis pada 21 Juli 2019. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Di sisi lain, AS di bawah kepemimpinan Donald Trump memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran membuka kembali jalur tersebut.
Pemerintah China menilai kebijakan blokade itu sebagai langkah yang "berbahaya dan tidak bertanggung jawab".
Pekan ini, Trump kembali menegaskan bahwa AS tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran hingga tercapai kesepakatan dengan Teheran. Ia bahkan mengklaim kebijakan tersebut "benar-benar menghancurkan Iran."
Presiden China Xi Jinping (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China) (Antara)