Ntvnews.id, Cilacap - Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pelaksanaan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II akan memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang kerja dalam jumlah besar.
Dalam kegiatan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di kawasan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, Rosan menjelaskan bahwa program hilirisasi kini memasuki fase lanjutan dari tahap sebelumnya yang telah dimulai pada awal Februari 2026.
“Program ini merupakan fase kedua, di mana fase pertama telah dilaksanakan sebelumnya sebagai bagian dari mandat yang diberikan kepada kami,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa peletakan batu pertama proyek dilakukan secara bersamaan sebagai upaya percepatan pembangunan industri berbasis nilai tambah di berbagai sektor strategis.
Lebih lanjut, Rosan menilai bahwa hilirisasi tidak hanya berfokus pada pengolahan sumber daya alam, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional, terutama dalam penciptaan lapangan kerja.
“Dari proyek-proyek yang kita jalankan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan mencapai kurang lebih 600 ribu,” katanya.
Rosan menjelaskan bahwa proyek-proyek tersebut mencakup sektor energi dan mineral, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai alternatif pengganti LPG impor.
“Sekitar 80 persen kebutuhan LPG kita masih berasal dari impor. Dengan hilirisasi ini, kita ingin mengurangi ketergantungan tersebut,” katanya.
Usai acara, ia menyampaikan bahwa peresmian fase kedua telah dilakukan langsung oleh Presiden di 13 lokasi secara serentak, sebagian melalui sambungan video conference.
“Alhamdulillah tadi groundbreaking proyek hilirisasi nasional fase kedua sudah diresmikan langsung oleh Bapak Presiden di 13 lokasi secara bersamaan, sebagian ditampilkan melalui video conference,” katanya.
Ia menambahkan bahwa fase kedua ini melanjutkan tahap pertama yang mencakup 11 lokasi, sehingga total proyek kini tersebar di berbagai wilayah strategis di Indonesia.
Menurutnya, komposisi proyek terdiri atas lima proyek sektor energi, lima proyek sektor mineral, serta tiga proyek lainnya yang berkaitan dengan industri dan teknologi pendukung.
Rosan juga memastikan bahwa seluruh proyek telah melalui proses panjang, mulai dari tahap kajian hingga perencanaan, sehingga diharapkan dapat segera direalisasikan secara optimal.
Ia menekankan bahwa salah satu manfaat utama dari hilirisasi adalah menekan ketergantungan impor, khususnya di sektor energi.
Baca Juga: Danantara: 167 BUMN Dilkuidasi, Transformasi Menuju Efisiensi Dipercepat
“Kalau kita lihat, pengurangan impor dari proyek-proyek ini bisa mencapai sekitar 3,4 miliar dolar AS per tahun,” katanya.
Proyek-proyek tersebut dikerjakan oleh sejumlah BUMN seperti Pertamina, MIND ID, dan Krakatau Steel, dengan dukungan pembiayaan serta percepatan dari Danantara.
“Ini merupakan kolaborasi bersama antar-BUMN, dan kami mendorong percepatan dari proyek-proyek yang sebelumnya sudah direncanakan,” katanya.
Selain itu, Rosan mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan fase ketiga hilirisasi yang diperkirakan mencakup enam proyek tambahan dengan nilai investasi yang lebih besar.
“Untuk fase ketiga, nilainya bisa mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp170 triliun,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa pada tahap berikutnya, pengembangan tidak hanya difokuskan pada sektor energi dan mineral, tetapi juga mulai merambah bidang lain seperti perkebunan dan akuakultur.
Baca Juga: Infografik: Temuan Cadangan Gas Raksasa untuk Ketahanan Energi Nasional
Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Ke depan kita juga akan dorong sektor seperti agrikultur, perikanan, termasuk komoditas seperti tilapia dan rumput laut,” katanya.
Rosan menegaskan bahwa seluruh program hilirisasi akan tetap dijalankan dengan prinsip tata kelola yang baik serta perencanaan yang matang agar memberikan hasil maksimal bagi perekonomian nasional.
Dengan berlanjutnya program ke tahap selanjutnya, pemerintah optimistis hilirisasi akan menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat ketahanan energi, menekan impor, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia.
(Sumber: Antara)
Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Roeslani memberi keterangan pers usai acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di area Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). ANTARA/Sumarwoto (Antara)