Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta meminta dosen perguruan tinggi negeri (PTN) dan hakim yang terlibat dalam daycare Little Aresha segera dinonaktifkan. Ini buntut aksi kekerasan di tempat penitipan anak tersebut.
Hal ini dinyatakan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti. Esti meminta kasus penganiayaan tersebut diusut hingga tuntas.
"Atas nama pribadi maupun Komisi X DPR RI dan Anggota DPR RI Dapil DIY, saya menyampaikan keprihatinan mendalam dengan adanya kekerasan pada anak-anak di daycare Little Aresha. Ini sebuah kejadian yang memilukan karena korban anak-anak dan balita jumlahnya cukup banyak," ujar Esti, Kamis, 30 April 2026.
Ia mengatakan, sebagai politikus yang berasal dari daerah pemilihan Yogyakarta, Esti juga mengawal langsung penanganan kasus tersebut. Dirinya berharap kasus tersebut diusut hingga tuntas, pelaku juga harus mendapat hukuman setimpal, agak menimbulkan efek jera.
"Hukuman, terhadap tenaga pendidik maupun tokoh berpengaruh, bisa tiga kali lipat dari sanksi yang diberikan kepada umum yang tidak paham. Apalagi seorang dosen dan aparat penegak hukum yang seharusnya lebih memahami aturan. Maka ketika dia terlibat, maka mau tidak mau harus bertanggung jawab lebih besar dari pada yang lain, karena akademisi seharusnya lebih memahami itu," jelas dia.
Dirinya memandang, penanganan kasus kekerasan daycare Little Aresha ini tidak boleh berhenti pada proses hukum semata. Tetapi juga harus memastikan pemulihan korban secara menyeluruh.
Bahkan, kata Esti, hal itu bukan hanya sebagai perkara pidana terhadap individu pelaku, tetapi sebagai indikator bahwa sistem perlindungan anak di sektor layanan pengasuhan belum maksimal. Esti pun mengungkap dampak yang dialami korban berdasarkan informasi dari orang tua mereka.
"Korban mengalami kekerasan fisik maupun mental yang cukup serius. Bahkan ada yang sudah sangat nampak dampak traumanya. Termasuk secara fisik ada dampak pada korban yang tidak tumbuh kembangnya tidak sesuai," papar dia.
Kepada Esti, beberapa orang tua korban menyampaikan langsung kondisi anak-anak mereka. Banyak anak dilaporkan mengalami gangguan kesehatan seperti pneumonia, bronkitis, infeksi kulit (gatal), infeksi saluran kemih (ISK), hingga stunting dan keterlambatan tumbuh kembang.
"Kondisi ini diduga akibat selama berada di daycare anak-anak tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, mengalami dehidrasi, serta ditempatkan di ruang yang lembab, sempit, dan tidak layak," papar dia.
Seraya menangis, para orang tua korban juga mengungkapkan rasa bersalah kepada anak-anak mereka, sekaligus kemarahan atas perlakuan yang diduga dilakukan oleh para pengasuh. Esti mengungkapkan, para orang tua pun berharap dengan sangat agar seluruh video yang beredar di media sosial dapat segera dihapus.
Struktur Kepengurusan Daycare Jogja (Instagram)