Ntvnews.id, Abu Dhabi - Keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC memicu perhatian besar di pasar energi global. Langkah tersebut dinilai dapat melemahkan pengaruh Arab Saudi dalam organisasi produsen minyak dunia sekaligus membuka potensi perubahan besar terhadap stabilitas harga minyak internasional.
Dilansir dari DW, Jumat, 1 Mei 2026, menyebut selama ini OPEC menerapkan sistem kuota produksi yang membatasi jumlah minyak yang dapat diproduksi masing-masing negara anggota. Namun, Uni Emirat Arab disebut telah lama berselisih dengan Arab Saudi terkait kebijakan tersebut.
UEA diketahui terus memperluas industri energinya melalui investasi besar-besaran demi meningkatkan kapasitas produksi dan pangsa pasar minyak global. Akan tetapi, pembatasan produksi dari OPEC dinilai menghambat ambisi tersebut.
Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei mengatakan negaranya membutuhkan fleksibilitas lebih besar dalam menentukan produksi energi.
"Dunia membutuhkan lebih banyak energi. Dunia membutuhkan lebih banyak sumber daya, dan UEA ingin bebas dari batasan kelompok mana pun."
UEA diyakini melihat peluang besar untuk meningkatkan ekspor minyak setelah konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan krisis di Selat Hormuz mereda. Para analis menilai keputusan keluar dari OPEC merupakan langkah strategis agar negara tersebut dapat bergerak lebih independen.
"Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, benar-benar menghilangkan instrumen penting dari OPEC," kata Jorge Leon.
"Dengan permintaan yang mendekati titik puncak, perhitungan bagi produsen dengan biaya produksi rendah berubah dengan cepat, dan menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti membiarkan uang terbuang percuma." jelasnya.
Baca Juga: SBY Ungkap Alasan Indonesia Hengkang dari Anggota OPEC
UEA yang bergabung dengan OPEC sejak 1967 dijadwalkan resmi meninggalkan OPEC dan aliansi OPEC+—yang juga melibatkan Rusia—pada 1 Mei mendatang.
Saat ini, UEA memproduksi sekitar 3,2 hingga 3,6 juta barel minyak per hari di bawah sistem kuota. Namun kapasitas maksimal produksinya disebut mencapai hampir 4,8 juta barel per hari dan ditargetkan meningkat menjadi 5 juta barel per hari tahun depan.
Pengaruh Arab Saudi Dinilai Melemah
Keluarnya UEA dinilai menjadi pukulan bagi Arab Saudi yang selama ini menjadi pemain paling dominan di OPEC. Sebab, UEA termasuk salah satu dari sedikit negara anggota yang memiliki kapasitas cadangan produksi besar.
Selama bertahun-tahun, Riyadh mengandalkan pemangkasan produksi minyak untuk menjaga harga global tetap stabil sekaligus mendisiplinkan anggota OPEC lainnya. Dengan hengkangnya UEA, kemampuan Arab Saudi mengendalikan pasar diperkirakan semakin terbatas.
David Oxley bahkan menyebut langkah ini sebagai sinyal awal perpecahan di tubuh OPEC.
"awal dari perpecahan,"
Menurutnya, “ikatan yang menyatukan anggota OPEC telah melemah.”
Arab Saudi sendiri membutuhkan harga minyak tinggi untuk membiayai proyek ambisius Visi 2030, termasuk pembangunan kota futuristik NEOM senilai ratusan miliar dolar AS.
Keluarnya UEA juga memperlihatkan ketegangan lama dalam tubuh OPEC, terutama terkait anggapan bahwa Arab Saudi terlalu mendominasi pengambilan keputusan organisasi.
Di sisi lain, pengaruh OPEC secara global juga terus menurun. Jika dahulu organisasi ini menguasai lebih dari separuh pasokan minyak dunia, kini pangsanya disebut tinggal kurang dari sepertiga.
Dampak terhadap Harga Minyak Dunia
Kilang Minyak Putri Tujuh milik Pertamina UP II Dumai di Dumai, Riau. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/foc/am. (Antara)
Meski demikian, keluarnya UEA diperkirakan belum akan langsung mengguncang harga minyak global. Situasi di Selat Hormuz saat ini masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar energi.
Sebagian besar ekspor minyak kawasan masih terganggu akibat konflik regional. UEA sendiri saat ini mengalihkan sekitar 1,8 juta barel minyak per hari ke pelabuhan Fujairah melalui jaringan pipa yang telah beroperasi maksimal.
Akibat kondisi tersebut, pengumuman keluarnya UEA disebut belum berdampak besar terhadap harga minyak mentah Brent dalam jangka pendek.
"Dalam jangka pendek, saya kira keluarnya UAE tidak akan berdampak besar karena apa yang saat ini terjadi di Selat Hormuz mendominasi gambaran minyak global. Berita dari OPEC ini menjadi hal yang relatif kecil," kata Jeff Colgan.
Namun dalam jangka panjang, keluarnya UEA diperkirakan dapat membuat harga minyak menjadi lebih rendah sekaligus lebih fluktuatif karena produksi global berpotensi meningkat.
Potensi Negara Lain Mengikuti
Keputusan UEA juga memunculkan spekulasi bahwa negara produsen minyak lain bisa mempertimbangkan langkah serupa.
"Mungkin kita bisa melihat seluruh organisasi ini runtuh," kata Colgan.
Meski demikian, ia menilai Arab Saudi kemungkinan besar akan tetap berusaha menjaga keberlangsungan OPEC sebagai penopang utama organisasi tersebut.
Tekanan terhadap OPEC memang sudah muncul dalam beberapa tahun terakhir akibat pelanggaran kuota oleh sejumlah anggota seperti Irak dan Nigeria, serta ketidakkonsistenan Rusia dalam mematuhi kesepakatan OPEC+.
Dalam analisanya, Oxley memperingatkan bahwa jika negara produsen lain melihat UEA berhasil meningkatkan fleksibilitas dan pangsa pasar di luar OPEC, maka bukan tidak mungkin negara lain akan ikut hengkang.
Meski begitu, sebagian besar anggota OPEC saat ini belum memiliki kapasitas produksi maupun diversifikasi ekonomi setara UEA sehingga gelombang keluar massal diperkirakan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Sebelum UEA, sejumlah negara lain juga pernah keluar atau menangguhkan keanggotaan dari OPEC, termasuk Qatar, Angola, Ekuador, Gabon, dan Indonesia.
Ilustrasi negara Uni Emirat Arab (UAE)./ANTARA/Anadolu/py (Antara)