Menkop Dorong Koperasi Nasional Laskar Juang Bangun Industri Tekstil dari Hulu hingga Hilir

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Jun 2026, 08:40
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Menteri Koperasi Ferry Juliantono luncurkan Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia minta bergerak dari hulu, Denpasar, Jumat (5/6/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari) Menteri Koperasi Ferry Juliantono luncurkan Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia minta bergerak dari hulu, Denpasar, Jumat (5/6/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari) (Antara)

Ntvnews.id, Denpasar - Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mendorong Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia untuk mengembangkan kegiatan usaha yang dimulai dari sektor hulu guna membangun ekosistem industri tekstil dan fesyen yang terintegrasi serta berbasis pada prinsip Ekonomi Pancasila.

Menurut Ferry, koperasi yang beranggotakan pelaku industri mode tersebut tidak hanya perlu fokus pada produksi pakaian jadi, tetapi juga harus berperan dalam pengembangan bahan baku lokal yang menopang industri tekstil nasional.

“Dalam konteks perancang dan pengusaha mode (anggota koperasi) kami membayangkan bahwa kegiatan menggunakan busana yang berbahan baku kain produk lokal, lebih jauh daripada itu juga mungkin bahan kapasnya tanam sendiri di tanah-tanah di Indonesia,” kata Menkop di Denpasar, Bali, Jumat, 5 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan dari hulu ke hilir akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian. Selain memperkuat industri busana, koperasi juga dapat mendukung produsen kain, industri tekstil, hingga petani yang menghasilkan bahan baku utama seperti kapas.

“Koperasi Nasional Laskar Juang ini saya mendorong sekiranya bisa melakukan inisiatif pembukaan lahan perkebunan kapas-kapas, dan juga produksi kain, garmen, dan seterusnya. Sekarang saya masih dengar kalau pewarna tekstil sebagian menggunakan bahan baku dari impor,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ferry saat meresmikan Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia yang digagas oleh Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka. Pada tahap awal, koperasi ini beranggotakan para pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia.

Baca Juga: Menkop Ferry Sebut Koperasi Merah Putih Jadi Motor Peningkatan Ekonomi Desa

Ferry mengakui bahwa upaya mengembalikan praktik ekonomi yang berlandaskan prinsip Ekonomi Pancasila melalui penguatan koperasi bukanlah pekerjaan mudah. Berbagai tantangan masih harus dihadapi, mulai dari ketergantungan terhadap bahan baku impor hingga persaingan industri yang semakin ketat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa koperasi harus kembali mengambil peran penting di sektor produksi, distribusi, industri, hingga pembiayaan sebagai bagian dari penguatan struktur ekonomi nasional.

"Ini sesuai dengan arah Presiden Prabowo Subianto yang memandang koperasi instrumen penting untuk menjadi soko guru perekonomian nasional, sehingga Kemenkop sendiri saat ini gencar dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," katanya.

Menanggapi arahan tersebut, Rieke Diah Pitaloka menegaskan bahwa koperasi yang dipimpinnya dibentuk untuk membangun kekuatan ekonomi rakyat yang berlandaskan gotong royong, kepemilikan bersama, dan kesejahteraan bersama.

Pada tahap awal, koperasi akan berfokus pada sektor sandang dengan mewadahi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk produsen pakaian dan tekstil. Berbeda dengan koperasi simpan pinjam, Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia lebih menitikberatkan aktivitasnya pada bidang produksi dan distribusi.

Baca Juga: Menkop Sebut 1.061 Koperasi Merah Putih Mulai Beroperasi, Siap Serap Produk Desa

“Koperasi harus mengambil peran strategis sebagai instrumen transformasi ekonomi nasional, harus mampu mengorganisir petani, nelayan, pekerja, UMKM, dan seluruh kekuatan produktif bangsa agar memiliki daya tawar, daya saing, dan daya hidup yang lebih kuat. Kita akan bergerak dari hulu hingga hilir,” tutur Rieke Diah.

Ia menjelaskan bahwa langkah awal yang akan dilakukan koperasi adalah memperkuat produksi rakyat, membangun jaringan distribusi yang lebih adil, memperluas akses pasar, mengembangkan industri pengolahan, serta menciptakan nilai tambah bagi produk dan sumber daya dalam negeri.

“Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi bangsa yang hanya mengekspor bahan mentah dan mengimpor produk jadi, kita harus menjadi bangsa yang mampu memproduksi, mengolah, mendistribusikan, dan menguasai rantai nilai ekonominya sendiri,” tuturnya.

Melalui model usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, koperasi diharapkan dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha dan masyarakat.

(Sumber: Antara)

x|close