Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru mengenai likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) untuk periode Mei 2026. Dalam laporan tersebut, jumlah uang yang beredar di masyarakat menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang positif hingga menyentuh angka Rp10.415,9 triliun.
Peningkatan laju pertumbuhan ini dikonfirmasi langsung oleh pihak bank sentral, yang mencatat adanya kenaikan persentase yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya.
“Pada Mei 2026, M2 tumbuh sebesar 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 sebesar 9,2 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.415,9 triliun,” kata Direktur Executif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Faktor utama yang memicu tren positif M2 ini adalah pergerakan uang kuasi yang tercatat naik 6,0 persen (yoy), serta performa uang beredar sempit (M1) yang melesat hingga 15,3 persen (yoy). Secara umum, dinamika jumlah uang beredar pada bulan Mei 2026 dipicu oleh pos aktiva luar negeri bersih dan juga aktivitas penyaluran kredit perbankan.
Baca Juga:Uang Beredar RI Tembus Rp10.253 T per April 2026
Sektor pembiayaan atau penyaluran kredit domestik menorehkan pertumbuhan di angka 10,8 persen (yoy), sebuah capaian yang lebih tinggi daripada performa bulan April 2026 yang kala itu berada di level 9,4 persen (yoy).
Perlu dipahami bahwa indikator kredit yang dipaparkan di sini murni merujuk pada pembiayaan berbentuk pinjaman (loans). Data ini sama sekali tidak memasukkan komponen instrumen keuangan lain yang sejenis, seperti tagihan repo, surat berharga (debt securities), ataupun tagihan akseptasi (banker's acceptances). Di samping itu, fasilitas kredit yang disalurkan oleh kantor bank umum di luar negeri, pembiayaan untuk non-penduduk, serta dana yang dikucurkan kepada pemerintah pusat juga tidak masuk dalam hitungan tersebut.
Baca Juga:Uang Beredar RI Tembus Rp10.355 T per Maret 2026
Di sisi lain, raihan aktiva luar negeri bersih pada periode Mei 2026 mampu tumbuh hingga 5,2 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini memperlihatkan pergerakan yang lebih progresif dibanding performa bulan April 2026 yang tertahan di posisi 3,7 persen (yoy).
Selain likuiditas makro, Bank Indonesia turut mempublikasikan posisi uang primer (M0) adjusted. Pada Mei 2026, M0 adjusted bertumbuh sebesar 14,2 persen (yoy) dengan nilai total mencapai Rp2.214,6 triliun, sedikit bergeser dari raihan April 2026 yang tumbuh 14,3 persen (yoy).
Kondisi finansial tersebut sangat dipengaruhi oleh peredaran uang kartal di masyarakat yang menguat sebesar 15,8 persen (yoy), serta giro bank umum di Bank Indonesia adjusted yang ikut terkerek naik 17,4 persen (yoy). Dari segi aspek pemicunya, perhitungan laju pergerakan M0 adjusted ini sudah mengkalkulasikan efek dari penyaluran insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
(Sumber: ANTARA)
Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. (Antara)