Saleh Husin: Rencana BUMN Tekstil Jadi Solusi di Tengah Tekanan Impor Produk Murah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jan 2026, 14:13
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Perindustrian Saleh Husin merespons terkait terkait rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Perindustrian Saleh Husin merespons terkait terkait rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil.

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Perindustrian Saleh Husin merespons terkait terkait rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil.

Ia menilai pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri tekstil yang tengah tertekan.

"Pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri nasional jika memang benar-benar diarahkan untuk memperbaiki masalah mendasar yang selama ini membuat industri tekstil tertekan," ucap Saleh Husin dalam keterangan tertulisnya, Rabu 21 Januari 2026.

Adapun salah satu masalah utama adalah banjirnya impor, baik yang legal maupun ilegal, yang membuat produk dalam negeri kalah harga. 

Baca juga: Purbaya Sindir Kadin di Depan Anindya: Kalau Rapimnas Ada Pemilihan Ketua Nggak?

Menurutnya dengan skala besar dan dukungan negara, BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri.Serta menjaga pasokan bahan baku lokal, dan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi.

Lebih lanjut, rencana pembentukan BUMN tekstil bisa menjadi contoh penerapan mesin modern, penggunaan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif. 

"Jika ini berhasil, maka industri tekstil tidak lagi dipandang sebagai sunset industry, tetapi sebagai industri yang “berubah bentuk”, tidak lagi hanya mengandalkan upah tenaga kerja murah, melainkan efisiensi, kualitas, dan kepastian pasar domestik," ungkap Saleh Husin.

Saleh Husin juga menilai investasi sebaiknya difokuskan pada bagian hulu dan intermediate rantai industri tekstil, seperti produksi serat sintetis, benang, dan kain. 

Pasalnya selama ini, banyak pabrik garmen bergantung pada bahan baku impor karena pasokan dalam negeri terbatas atau mahal. 

"Akibatnya, ketika impor dibanjiri produk murah, industri lokal semakin tertekan," jelasnya.

Baca juga: KADIN Optimis Target Penerima MBG 82,9 Juta Bisa Tercapai: Ini Program yang Luar Biasa

Selain itu, investasi pada mesin modern dan tekstil khusus, misalnya untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, atau bahan industri, lebih menjanjikan dibandingkan hanya memproduksi pakaian jadi massal. 

"Segmen ini tidak terlalu sensitif terhadap harga murah dari impor ilegal dan lebih menekankan kualitas serta spesifikasi. Dengan arah ini, industri tekstil bisa keluar dari citra sunset industry yang identik dengan persaingan harga murah dan margin tipis," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Saleh Husin juga menyebut heberhasilan BUMN tekstil tidak semata-mata diukur dari untung besar dalam waktu singkat. 

Adapun indikator yang lebih realistis antara lain berkurangnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya penggunaan produk tekstil dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja karena mesin yang lebih modern dan pelatihan yang lebih baik.

Indikator lain yang penting adalah biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, sehingga pabrik tidak lagi kalah bersaing hanya karena listrik atau gas mahal. 

"Jika BUMN tekstil juga mampu menjadi penopang bagi IKM, misalnya dengan menyediakan bahan baku yang stabil dan berkualitas, maka perannya akan terasa nyata bagi industri nasional. Dalam konteks ini, keberhasilan berarti industri tekstil tidak “mati”, tetapi bertransformasi menjadi lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor dan tekanan global," tandasnya.

x|close