Indef Optimis Danantara Jadi Instrumen Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jan 2026, 13:27
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Danantara Indonesia Danantara Indonesia (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meyakini kehadiran Danantara akan memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan terhadap perekonomian nasional khususnya melalui peningkatan produktivitas dan akumulasi modal jangka panjang.

Optimisme tersebut disampaikan menyusul diperkenalkannya Danantara oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis 22 Januari 2026 kemarin.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan, Danantara dirancang sebagai dana abadi pemerintah yang berfungsi membiayai sektor-sektor strategis seperti pendidikan, ketahanan pangan, dan inovasi melalui imbal hasil investasi berkelanjutan, bukan pembiayaan rutin dari APBN.

Skema itu, menurutnya  mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Baca juga: Danantara Segera Terbitkan Patriot Bond Jilid II, Target Rp20 Triliun

Berdasarkan perhitungannya, ia mengatakan reformasi berbasis Danantara menunjukkan dampak positif yang cukup kuat terhadap indikator makroekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat meningkat tajam pada fase awal reformasi dan mencapai hampir tiga persen di atas baseline.

Dalam jangka panjang, pertumbuhan tersebut berangsur konvergen dan stabil di kisaran dua persen, mencerminkan efek pertumbuhan yang persisten dan bukan lonjakan sementara.

Pertumbuhan itu terutama didorong oleh peningkatan stok kapital, serta penurunan pajak modal dan kenaikan produktivitas, sehingga mempercepat akumulasi modal hingga mendekati puncak tiga persen, yang menunjukkan proses kapital yang kuat.

Dari sisi konsumsi, Indef mencatat konsumsi agregat meningkat secara bertahap hingga 1,5 persen seiring dengan kenaikan pendapatan riil dan produktivitas.

Pola gradual tersebut, ia mengatakan konsisten dengan keputusan konsumsi antartemporal rumah tangga. Namun, dalam jangka pendek terdapat penyesuaian konsumsi sebagai konsekuensi dari realokasi sumber daya menuju investasi produktif.

Sementara itu, tenaga kerja tercatat mengalami penurunan moderat sekitar 0,8 persen akibat efek substitusi kerja–leisure. Kondisi itu terjadi ketika peningkatan produktivitas dan upah riil memungkinkan rumah tangga memiliki fleksibilitas alokasi waktu yang lebih besar.

Meski demikian, Indef menilai dinamika tersebut tidak mengganggu kinerja ekonomi secara keseluruhan karena pertumbuhan yang dihasilkan bersifat productivity driven.

Di sisi upah, peningkatan total factor productivity (TFP) mendorong kenaikan produktivitas marjinal tenaga kerja yang pada akhirnya diterjemahkan menjadi upah riil yang lebih tinggi.

Produktivitas yang meningkat juga memperbesar pendapatan dan keuntungan perusahaan, sehingga memperluas kapasitas dunia usaha dalam memberikan kompensasi yang lebih baik kepada pekerja.

Dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif, kondisi ini mendorong perusahaan menawarkan upah lebih tinggi guna mempertahankan tenaga kerja terampil.

Namun, Esther menegaskan bahwa manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola.

“Manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek, dan disiplin fiskal," ujar Esther.

Baca juga: Danantara Segera Terbitkan Patriot Bond Jilid II, Target Rp20 Triliun

Indef juga menyoroti pentingnya kebijakan pelengkap untuk mengelola dampak distribusional yang berbeda antar kelompok pendapatan.

Program sosial yang bersifat terarah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat meredam dampak jangka pendek sekaligus memperkuat legitimasi reformasi.

"Program sosial seperti MBG berpotensi meredam dampak jangka pendek dan memperkuat legitimasi reform," katanya.

Presiden RI Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Prabowo mengatakan bahwa selain perdamaian dan stabilitas, pertumbuhan ekonomi juga mensyaratkan tata kelola negara dan pengelolaan modal yang efisien, terutama dalam hal alokasi dan realokasi investasi.

"Pada Februari lalu, kami membentuk sovereign wealth fund kami, Danantara Indonesia," katanya.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa Danantara yang merupakan energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia, mengelola aset mencapai 1 triliun dolar AS. (Sumber:Antara)

x|close