OJK Waspadai Potensi Capital Outflow Imbas Perang AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mar 2026, 22:45
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026. (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026. (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengintensifkan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya capital outflow jangka pendek sebagai dampak meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat–Israel yang memicu dinamika pasar global.

Pelaksana tugas Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan bahwa pengawasan terhadap likuiditas serta risiko pasar terus dilakukan secara ketat.

“Kami di OJK tentu akan terus melakukan pemantauan intensif dan close monitoring terhadap likuiditas dan risiko pasar. Bersama lembaga lain dalam koridor dan forum KSSK, kita akan terus memastikan terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan,” kata Hasan di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Hasan menyebut secara umum kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif terjaga dengan indikator makro yang stabil. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat transmisi dampak global dapat terjadi melalui volatilitas dan perubahan sentimen investor.

Menurut dia, tekanan pasar akibat eskalasi geopolitik tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga melanda pasar saham regional dan global. OJK mencatat mayoritas indeks utama dunia mengalami koreksi pada fase awal meningkatnya ketidakpastian global, seiring langkah investor melakukan penyesuaian risiko.

Baca Juga: IHSG Selasa Dibuka Menguat ke Level 8.059 di Tengah Kisruh Konflik Timur Tengah

“Jadi bisa dipahami pasar saham itu memang selalu mem-price-in dan me-risk-off kejadian saat ini untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga sebelum sektor-sektor yang lain, biasanya kita akan langsung melihat dampak awalnya di respon pasar di pasar saham kita,” jelas Hasan.

Ia menambahkan, fluktuasi pada Indeks Harga Saham Gabungan

 (IHSG) merupakan bagian dari mekanisme transmisi global yang dinilai wajar sebagai respons awal investor terhadap risiko konflik dan ketegangan geopolitik.

Dalam menjaga stabilitas pasar, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menerapkan sejumlah kebijakan yang dapat dimanfaatkan, termasuk kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS dalam kondisi tertentu.

Selain itu, mekanisme auto rejection bawah tetap diberlakukan untuk meredam penurunan harga saham secara tajam. Apabila terjadi kepanikan dan kondisi one-sided market, kebijakan trading halt dapat diterapkan bila tekanan pasar dinilai signifikan.

Baca Juga: Konflik Iran–Israel Memanas, IHSG Senin Dibuka di Zona Merah

Hasan menekankan bahwa stabilitas pasar tidak lepas dari sikap investor. OJK mengimbau pelaku pasar tetap rasional, mencermati perkembangan situasi global, serta mempertimbangkan aspek risiko dan fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.

Ia menambahkan, merujuk pada pengalaman eskalasi geopolitik sebelumnya, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio ke instrumen safe haven seperti emas, mata uang yang lebih stabil, serta obligasi pemerintah domestik maupun negara maju, sembari mengambil sikap wait and see terhadap perkembangan terbaru.

Pada penutupan perdagangan Selasa sore, 3 Maret 2026, IHSG terkoreksi 77,06 poin atau 0,96 persen ke posisi 7.939,77.

Sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 6,89 poin atau 0,85 persen menjadi 805,59, seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

(Sumber: Antara) 

x|close