Ntvnews.id, Jakarta - Memperingati Hari Pendidikan Nasional, P&G Health Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan dua institusi pendidikan farmasi terkemuka di Indonesia, yakni Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Program Studi Profesi Apoteker.
Inisiatif ini difokuskan untuk memperkuat kapasitas calon apoteker, alumni, serta tenaga kesehatan melalui metode pembelajaran yang lebih praktis, relevan, dan selaras dengan kebutuhan di lapangan.
Kemitraan jangka panjang ini dirancang untuk mempertegas posisi apoteker sebagai salah satu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan. Mahasiswa dan lulusan muda dibekali pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai penyakit yang sering ditemui di masyarakat, seperti anemia, rhinitis akut, hingga neuropati perifer. Selain itu, program ini juga menyoroti pentingnya penggunaan obat secara tepat dan bertanggung jawab guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Di P&G Health, kami percaya bahwa apoteker memiliki peran penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata dan membagikan berbagai inovasi solusi kesehatan yang dimiliki oleh P&G Health Indonesia sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan pasien sehari-hari,” ujar Caroline Herlina, Brand Director Health Care P&G Indonesia dalam keterangannya, Selasa, 5 Mei 2026.
Baca Juga: BGN Goes to Campus di Unhas, Perkuat Peran Kampus sebagai Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur
Caroline menambahkan bahwa program ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, yang dimulai dari tingkat Program Studi Profesi Apoteker agar tetap sejalan dengan kebutuhan akademik sekaligus praktik di lapangan.
“Kolaborasi ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, dimulai dari tingkat Program Studi Profesi Apoteker untuk memastikan keselarasan dengan kebutuhan akademik sekaligus relevansi terhadap praktik di lapangan," katanya.
Dalam implementasinya, P&G Health bersama Unika Atma Jaya menghadirkan pendekatan pembelajaran menyeluruh melalui berbagai format, seperti modul e-learning, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak.
Program e-learning tersebut ditargetkan menjangkau lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran berkelanjutan. Pesertanya tidak hanya mahasiswa, tetapi juga alumni yang sedang menjalani profesi apoteker.
Baca Juga: 15 Transformasi Pendidikan Indonesia di Era Presiden Prabowo
Dari perspektif akademisi, kerja sama ini dinilai membawa perubahan signifikan dalam metode pembelajaran.
“Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif dalam pembelajaran kami. Melalui berbagai format seperti e-learning, video edukasi, serta modul terstruktur, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan langsung dalam situasi nyata bersama pasien,” ujar Dr. dr. Felicia Kurniawan, M.Kes, Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya.
Sementara itu, Universitas Padjadjaran turut berperan dalam kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan farmasi sekaligus mendukung kualitas kesehatan masyarakat. Program awal yang dijalankan berupa e-learning dengan fokus pada penguatan kompetensi ‘Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline’, khususnya dalam penanganan rhinitis akut.
Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker dan menjadi langkah awal menuju pengembangan kerja sama yang lebih luas, terutama di bidang edukasi, riset, dan pengabdian masyarakat.
Baca Juga: Hardiknas, Seskab Teddy Ajak Komunitas Pendidikan Bersinergi Majukan Pendidikan Nasional
“Kami melihat kolaborasi ini sebagai langkah awal yang penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam aspek konseling pasien dan penggunaan obat yang rasional. Ke depan, kami berharap kerjasama ini dapat berkembang ke inisiatif yang lebih luas, termasuk riset dan edukasi masyarakat,” ujar Prof. apt. Auliya A. Suwantika, MBA., PhD, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Dukungan juga datang dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Ketua Umum IAI, apt. Noffrendi Roestam, S.Si menilai kolaborasi antara industri dan institusi pendidikan sebagai langkah positif dalam memperkuat peran apoteker di Indonesia.
Seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, peran apoteker kini tidak hanya terbatas sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan yang aktif memberikan edukasi serta memastikan penggunaan obat yang tepat. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi melalui pembelajaran yang lebih aplikatif menjadi semakin krusial.
Baca Juga: Pemprov DKI Perkuat Akses Pendidikan, Sekolah Swasta Gratis hingga Pemutihan Ijazah
Apresiasi serupa disampaikan Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph.D., yang menilai kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional.
“Untuk memperkuat ekosistem kesehatan berbasis riset, kolaborasi lintas sektor antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi merupakan kuncian utama. Setiap inovasi kesehatan dan inisiatif edukasi perlu memiliki dasar ilmiah yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat terkini, serta tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, manfaat, dan kepatuhan terhadap regulasi" ujarnya.
Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pembelajaran akademik, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang terhadap profesi apoteker. Apoteker diharapkan semakin berperan sebagai mitra kesehatan yang aktif dalam memberikan edukasi sekaligus membantu pasien dalam mengambil keputusan terkait pengobatan.
P&G Health Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan Unika Atma Jaya dan Unpad melalui Program Studi Profesi Apoteker. (Istimewa)