AS Tuding China Biayai Iran, Desak Beijing Bantu Buka Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Selat Hormuz. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Arsip foto - Selat Hormuz. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menuding China ikut "membiayai" Iran, namun di saat yang sama meminta Beijing membujuk Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, 4 Mei 2026.

"Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka. Jadi, mereka (China) mendanai negara sponsor terorisme terbesar," ungkap dia, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 6 Mei 2026.

Selain melontarkan kritik, Bessent juga mendesak China agar menggunakan pengaruhnya terhadap Iran demi membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Bessent menuding Iran telah menutup Selat Hormuz melalui serangan-serangannya, sementara Amerika Serikat disebut berhasil membuka kembali akses pelayaran di kawasan itu. Ia juga mengklaim Iran tidak memiliki kendali atas selat tersebut dan AS kini memegang kontrol penuh.

"Jadi, saya akan mendesak China untuk bergabung dengan kami mendukung operasi internasional," ucap Bessent.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Insentif Industri Padat Karya

Menurutnya, China memiliki pengaruh besar terhadap Iran sehingga diharapkan mampu mendorong Teheran membuka kembali jalur perdagangan global tersebut.

"Mari kita lihat mereka meningkatkan diplomasi dan membuat Iran membuka selat tersebut," ucap dia.

Iran diketahui menutup Selat Hormuz pada 2 Maret setelah mendapat serangan besar-besaran dari AS dan Israel pada akhir Februari. Penutupan itu disebut sebagai bentuk balasan Teheran terhadap kedua negara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Bessent turut menyinggung sikap China di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bulan lalu, Beijing bersama Rusia memveto resolusi yang mengecam blokade Iran terhadap Selat Hormuz.

China dan Rusia menilai rancangan resolusi tersebut tidak adil karena hanya menyalahkan Iran tanpa menyinggung serangan AS dan Israel terhadap negara itu.

"Draf tersebut gagal menangkap akar penyebab dan gambaran lengkap konflik secara komprehensif dan seimbang," kata Duta Besar China untuk PBB Fu Cong.

x|close