Ntvnews.id, Jakarta - Dokter spesialis gizi klinik mengingatkan jamaah haji Indonesia agar mewaspadai risiko dehidrasi saat menjalankan ibadah di tengah cuaca panas ekstrem di Makkah dan Madinah.
Dokter spesialis gizi klinik A. Yasmin Syauki mengatakan tanda awal dehidrasi dapat dikenali dari kondisi tubuh yang mulai lemas hingga perubahan warna urine menjadi lebih pekat.
"Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas, kemudian kalau misalnya yang sebelum lemas mungkin kita bisa lihat warna kencing kita itu warnanya apa," kata Yasmin saat dihubungi ANTARA pada Selasa, 12 Mei 2026.
Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin itu menjelaskan warna urine dapat menjadi indikator kondisi hidrasi seseorang.
"Ketika dia warnanya pekat, maka kemungkinan kita dehidrasi. Jadi sudah tidak terlalu kuning, bukan kuning jernih, jadi kuningnya pekat, maka itu sudah mengalami dehidrasi," katanya.
Baca Juga: Tips Cegah Dehidrasi Saat Puasa agar Tetap Segar dan Fokus Sepanjang Hari
Sebelumnya, dokter spesialis gizi klinik Pande Putu Agus Mahendra dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga menyebut dehidrasi dapat ditandai dengan tubuh lemas, rasa limbung, sakit kepala, mual, hingga pandangan kabur.
Menurut Yasmin, jamaah haji yang mulai mengalami tanda-tanda dehidrasi perlu segera menambah asupan cairan agar kondisi tubuh tidak semakin memburuk.
"Kita segera menambah asupan cairan kita untuk menghindari respons dehidrasinya," kata dr. Yasmin.
Selain dehidrasi, jamaah haji juga diingatkan mengenai risiko heatstroke atau sengatan panas akibat paparan suhu tinggi dalam waktu lama.
"Heatstroke itu berarti panas yang tidak bisa dikendalikan oleh tubuh, sehingga kita seperti sesak napas, kemudian pusing," katanya.
Baca Juga: Jamaah Haji Diminta Waspadai heatstroke dan Dehidrasi Selama Ibadah
"Kemudian tubuh kita tidak bisa melakukan kompensasi, itu langsung tiba-tiba bisa sesak, lemas, pusing," ia menambahkan.
Untuk mengurangi dampak cuaca panas ekstrem, Yasmin menyarankan jamaah menggunakan pelindung kepala saat berada di luar ruangan. Ia juga menyebut jamaah dapat memakai kain atau kanebo basah ketika berada di dalam tenda di Mina guna membantu menjaga suhu tubuh tetap dingin.
"Dengan membasahi kanebo dengan air sehingga kepala kita suhunya tetap dingin, tidak panas," katanya.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Jamaah haji menggunakan payung saat cuaca panas meliputi area Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, Selasa (27/5/2025). ANTARA FOTO/Andika Wahyu. (Antara)