Ntvnews.id,
"Selama 24 jam terakhir, 31 kapal, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal dagang lainnya, telah melintasi Selat Hormuz di bawah koordinasi dan pengamanan angkatan laut IRGC," menurut pernyataan IRGC seperti dikutip stasiun televisi IRIB pada Kamis, 21 Mei 2026.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran sejak 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran melakukan serangan terhadap wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Jika Konflik Berlanjut, IRGC Iran Ancam Gunakan 'Senjata' Baru
Di tengah situasi tersebut, Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata dan melanjutkan perundingan di Islamabad, namun negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memperpanjang masa gencatan senjata guna memberikan kesempatan kepada Iran untuk mengajukan “proposal terpadu”.
Baca Juga: Kepala Intelijen IRGC Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Tak Melemah
Meningkatnya eskalasi di sekitar Iran memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia menuju pasar internasional.
Situasi tersebut turut mempengaruhi aktivitas ekspor dan produksi minyak global. Dampaknya, sejumlah negara di dunia mengalami kenaikan harga bahan bakar serta berbagai produk industri.
(Sumber: Antara)
Arsip - Orang-orang sedang berolahraga dengan latar belakang sebuah kapal yang melewati Selat Hormuz. (ANTARA/Anadolu Agensi/pri) (Antara)