Ntvnews.id,
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan para demonstran meneriakkan slogan “Pulanglah, AS!” sebagai bentuk penolakan terhadap peningkatan kehadiran diplomatik Amerika Serikat di Greenland.
Para peserta aksi juga membawa spanduk bertuliskan “Kami tidak menginginkan uang Anda” di tengah berlangsungnya resepsi pembukaan pos diplomatik AS yang baru di Nuuk.
Konsulat yang ditingkatkan tersebut menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat untuk memperluas kehadiran diplomatik dan strategisnya di Greenland, wilayah semi-otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.
Pembukaan konsulat itu juga terjadi di tengah ketertarikan berkelanjutan Presiden Donald Trump terhadap pulau Arktik tersebut.
Baca Juga: AS Kirim Senator ke Greenland di Tengah Ketegangan Diplomatik
Sementara itu, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen memilih tidak menghadiri resepsi pembukaan konsulat tersebut.
Beberapa pejabat Greenland lainnya juga absen dalam acara itu karena hubungan antara Greenland dan Washington masih berada dalam situasi tegang.
Selain itu, sejumlah anggota parlemen Greenland secara terbuka menolak undangan menghadiri acara pembukaan konsulat dengan alasan situasi politik yang sedang berkembang di negara mereka.
Baca Juga: AHY Soroti Greenland, Mineral Kritis dan Arktik Jadi Rebutan Kekuatan Dunia
Duta Besar Amerika Serikat untuk Denmark Ken Howery menegaskan bahwa AS telah mengesampingkan penggunaan kekerasan dan menekankan masa depan Greenland sepenuhnya harus diputuskan oleh rakyat Greenland sendiri.
Meski demikian, pembukaan konsulat tersebut tetap memunculkan penolakan publik dan keresahan politik terkait semakin luasnya pengaruh serta kehadiran Amerika Serikat di pulau tersebut.
(Sumber: Antara)
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen terlihat saat ikut demonstrasi menentang tindakan dan pernyataan AS yang berupaya menguasai Greenland di Nuuk, Greenland, wilayah otonom Denmark, pada 17 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Anders Kongshaug) (Antara)