Negosiasi Iran-AS Terancam Gagal akibat Sengketa Aset Ini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mei 2026, 07:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Amerika Serikat (AS) dan Iran. /ANTARA/Anadolu/pri. Ilustrasi - Amerika Serikat (AS) dan Iran. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat disebut berada di ambang kegagalan karena belum tercapainya kesepakatan mengenai aset Iran yang dibekukan serta persoalan material nuklir. Hal tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim pada Minggu, 24 Mei 2026.

Media semi-resmi milik pemerintah Iran itu menyebut proses negosiasi dapat berakhir tanpa hasil apabila kedua negara tidak menemukan titik kompromi.

Tasnim, yang mengutip sumber dekat dengan pembicaraan, melaporkan bahwa Washington masih menghambat kesepakatan terkait pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.

“Masalah-masalah tersebut belum terselesaikan sejauh ini,” tulis laporan Tasnim.

Dikutip dari Yeni Safak, Senin, 25 Mei 2026, Iran disebut tetap mempertahankan “garis merah” terkait hak-hak rakyatnya dan menolak menghubungkan pencairan aset dengan kewajiban membuang material nuklir berupa uranium yang telah diperkaya.

Sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada The New York Times bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan awal terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sebagai bagian dari kesepahaman itu, Iran disebut bersedia membuang cadangan uranium yang diperkaya.

Baca Juga: Cerita Bos Intelijen AS Mundur, Sempat Berselisih dengan Trump soal Perang Iran

Meski demikian, mekanisme pembuangan uranium tersebut masih terus dinegosiasikan. Selain itu, rancangan kesepakatan yang tengah dibahas juga dikabarkan tidak mencakup pembatasan persediaan rudal Iran maupun penghentian aktivitas pengayaan uranium.

Kesepakatan final masih menunggu persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Proses pengesahan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Februari lalu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran. Teheran kemudian merespons dengan menyerang Israel dan beberapa negara sekutu Teluk, serta menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai diberlakukan pada 8 April dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Namun, kondisi di kawasan dinilai masih rentan di tengah kebuntuan diplomatik yang belum menemukan penyelesaian.

x|close