China Kirim Bantuan Medis Darurat ke Kongo untuk Atasi Wabah Ebola

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jun 2026, 07:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Petugas Palang Merah berjalan berbaris saat melakukan disinfeksi di Rumah Sakit Umum Rwampara sebelum menangani jenazah seorang korban yang meninggal akibat Ebola di Centre Medical Evangelique (CME), komune Hoho, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demok Petugas Palang Merah berjalan berbaris saat melakukan disinfeksi di Rumah Sakit Umum Rwampara sebelum menangani jenazah seorang korban yang meninggal akibat Ebola di Centre Medical Evangelique (CME), komune Hoho, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demok (Antara)

Ntvnews.id, Beijung - Pemerintah China mengumumkan akan menyalurkan bantuan medis darurat kepada Republik Demokratik Kongo guna membantu penanganan wabah Ebola yang terus menyebar di negara Afrika tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Senin, 1 Juni 2026, menyampaikan bahwa pemerintah Beijing akan mengirim tim ahli medis untuk memberikan layanan kesehatan sekaligus bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak.

“Pemerintah Tiongkok telah memutuskan memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC dan mengirim tim ahli medis untuk layanan serta bantuan kesehatan,” kata Lin dalam konferensi pers di Beijing, seperti dikutip dari TRT World, Selasa, 2 Juni 2026.

Lin menjelaskan bahwa China juga turut mendukung upaya penanganan wabah yang dilakukan oleh Komisi Uni Afrika dan Africa Centres for Disease Control and Prevention.

Berdasarkan data World Health Organization, sedikitnya 134 kasus Ebola terkonfirmasi telah ditemukan dalam wabah terbaru yang melanda Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Baca Juga: WHO Ungkap Wabah Ebola di RD Kongo Tewaskan 220 Orang

Hingga saat ini, wabah tersebut dilaporkan telah menyebabkan 18 kematian di kedua negara. Sementara itu, otoritas kesehatan Kongo mencatat lebih dari 1.000 kasus suspek sejak wabah diumumkan pada 15 Mei lalu.

Penyebaran Ebola jenis Bundibugyo saat ini terkonsentrasi di tiga provinsi di bagian timur Kongo, yaitu Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.

Lin mengatakan para tenaga medis China telah berada di lokasi dan bekerja sama dengan petugas kesehatan setempat untuk membantu penanganan wabah. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, China telah mengirim lebih dari 45 tim medis ke berbagai negara di Afrika sebagai bagian dari kerja sama kesehatan internasional.

Petugas medis dengan pakaian pelindung memindahkan jenazah korban Ebola di Mongbwalu, provinsi Ituri, bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC), 24 Mei 2026. (Str/Xinhua) <b>(Antara)</b> Petugas medis dengan pakaian pelindung memindahkan jenazah korban Ebola di Mongbwalu, provinsi Ituri, bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC), 24 Mei 2026. (Str/Xinhua) (Antara)

Di sisi lain, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, meminta negara-negara yang menerapkan pembatasan perjalanan akibat wabah Ebola untuk meninjau kembali kebijakan tersebut.

Sejumlah negara diketahui telah mengambil langkah pembatasan perjalanan sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit. Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, telah memberlakukan pembatasan perjalanan serta penangguhan visa bagi warga Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.

Sementara itu, Rwanda dan Uganda juga menerapkan pembatasan perjalanan dari wilayah Kongo meskipun kedua negara berbatasan langsung dengan negara yang tengah dilanda wabah tersebut.

Langkah China mengirim bantuan medis dan tenaga ahli diharapkan dapat memperkuat respons kesehatan di kawasan serta membantu menekan penyebaran Ebola yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Afrika Tengah dan Timur.

x|close