BMKG Catat Tsunami Tertinggi 75 Sentimeter di Talengen Pascagempa M7,7 Mindanao

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jun 2026, 15:14
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Peringatan dini tsunami keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB. ANTARA/HO-BMKG . Peringatan dini tsunami keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB. ANTARA/HO-BMKG . (Antara)

Ntvnews.id, Manado - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gelombang tsunami tertinggi akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin pagi, tercatat di Talengen, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gelombang tersebut terukur mencapai ketinggian 0,75 meter pada pukul 08.20 WIB.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa peringatan dini tsunami akhirnya resmi diakhiri setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi yang semakin aman.

"Peringatan dini keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam update gempa M7.7 yang diterima ANTARA di Manado, Senin, 8 Juni 2026.

BMKG menerapkan prosedur operasi standar (SOP) penanganan gempa berpotensi tsunami dengan menerbitkan empat tahapan peringatan dini. Peringatan pertama dirilis pada pukul 06.40.44 WIB atau sekitar tiga menit setelah gempa terjadi dan memuat informasi lokasi gempa, magnitudo, waktu kejadian, serta tingkat ancaman tsunami.

Selanjutnya, peringatan dini kedua diterbitkan pada pukul 06.51.26 WIB yang berisi pembaruan parameter gempa. Sementara itu, peringatan dini ketiga memuat hasil observasi alat ukur pasang surut laut atau tide gauge yang mencatat kedatangan serta tinggi gelombang tsunami di sejumlah wilayah.

Dalam laporan peringatan dini tahap 3.1 yang dirilis pukul 08.13.41 WIB, tsunami pertama kali terdeteksi di beberapa lokasi, yakni Loloda, Maluku Utara dengan tinggi 0,09 meter pada pukul 07.20 WIB, Ulu Siau, Sulawesi Utara setinggi 0,18 meter pada pukul 07.27 WIB, serta Melonguane, Sulawesi Utara dengan ketinggian 0,32 meter pada waktu yang sama.

Baca Juga: BMKG: Gempa M 7,7 Laut Sulawesi Dipicu Subduksi Lempeng Filipina

Kemudian pada peringatan dini tahap 3.2 yang diumumkan pukul 08.34.52 WIB, BMKG kembali mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah titik. Di antaranya Tahuna, Kepulauan Sangihe dengan tinggi 0,30 meter pada pukul 06.58 WIB, Paleleh, Sulawesi Tengah setinggi 0,45 meter pada pukul 07.34 WIB, Tanjung Sidupa, Sulawesi Utara sebesar 0,32 meter pada pukul 07.39 WIB, Bitung setinggi 0,29 meter dan Ternate 0,14 meter pada pukul 07.51 WIB.

Gelombang tertinggi tercatat di Talengen, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang mencapai 0,75 meter pada pukul 08.20 WIB. Meski tergolong tsunami skala kecil, BMKG tetap melakukan pemantauan intensif hingga akhirnya peringatan dini dicabut.

Gempa yang memicu tsunami tersebut terjadi pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB. Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa berkekuatan M7,7 itu berpusat di laut pada koordinat 5,80° Lintang Utara dan 125,14° Bujur Timur dengan kedalaman 47 kilometer. Lokasi episenter berada sekitar 244 kilometer di barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.

Baca Juga: BMKG Catat 20 Gempa Susulan Pascagempa M7,7 di Filipina

Hasil pemodelan tsunami BMKG sebelumnya menunjukkan sejumlah wilayah berstatus siaga dengan potensi gelombang antara 0,5 hingga 3 meter, meliputi Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Tolitoli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung.

Sementara itu, sejumlah daerah lain ditetapkan dalam status waspada dengan potensi tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter, antara lain Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Tarakan, Halmahera Utara, Kutai, Bontang, Berau, serta beberapa wilayah pesisir lainnya di Indonesia bagian timur.

(Sumber: Antara)

 

x|close