Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam konflik yang berlangsung di Timur Tengah telah menunjukkan bahwa pendekatan militer tidak mampu menyelesaikan persoalan secara tuntas. Beijing kembali menekankan pentingnya jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran selama lebih dari tiga bulan terakhir telah memberikan dampak besar bagi negara-negara di kawasan Teluk.
"Fakta telah membuktikan bahwa cara-cara militer tidak dapat menyelesaikan masalah apa pun dan penggunaan kekuatan secara sewenang-wenang hanya akan memperumit masalah," kata Lin saat memberikan keterangan kepada wartawan di Beijing, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Rabu, 10 Juni 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas laporan mengenai dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon, meskipun Washington disebut telah meminta Tel Aviv untuk menahan diri dari serangan lebih lanjut.
Lin menilai saat ini perundingan antara Iran dan Amerika Serikat sedang memasuki fase yang sangat menentukan.
"Negosiasi Iran-AS saat ini berada pada tahap krusial. Tidak ada pihak yang boleh menyulut kembali konflik militer," tegasnya.
Ia juga menyerukan agar seluruh pihak menghormati kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara di Timur Tengah.
Baca Juga: Wamenlu: Kehadiran Prabowo di KTT ASEAN-Rusia Masih Dikoordinasikan
"China menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk tetap tenang, menahan diri, menghentikan tindakan konfrontatif apa pun yang dapat meningkatkan konflik, mengambil tindakan nyata untuk meredakan situasi, menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik, dan berupaya untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin," lanjut Lin.
Pernyataan Beijing muncul di tengah potensi ketegangan hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sebelumnya, Trump dilaporkan meminta Netanyahu agar tidak membalas serangan rudal Iran pada Minggu, 7 Juni 2026 malam waktu setempat.
Namun, permintaan tersebut tidak diikuti oleh Israel. Pada Senin, 8 Juni 2026 pagi, militer Israel tetap melancarkan serangan balasan ke wilayah Iran.
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Dalam operasi tersebut, pasukan Israel menargetkan sistem pertahanan udara Iran serta sebuah fasilitas petrokimia. Sebagai respons, Iran kembali meluncurkan serangan yang menyasar fasilitas serupa di wilayah Haifa dan dua pangkalan udara Israel.
Sejumlah rudal dilaporkan berhasil dicegat di langit Tepi Barat. Hingga kini tidak ada laporan korban jiwa dari kedua belah pihak akibat rangkaian serangan tersebut.
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan udara Israel ke Beirut pada Minggu, 7 Juni 2026. Iran, yang selama ini menegaskan bahwa keberhasilan kesepakatan damai dengan AS sangat bergantung pada berakhirnya pertempuran di Lebanon, kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel.
Meski sempat terjadi aksi saling serang, Iran dan Israel kini telah menghentikan sementara operasi militer mereka, membuka peluang bagi upaya diplomatik untuk kembali dijalankan demi mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (3/3/2025). (Antara)