Ntvnews.id, Jakarta - Penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dikurangi. Salah satu pihak yang rencananya tak lagi menerima MBG, ialah siswa sekolah menengah atas (SMA).
Rencana ini diungkap Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari, usai rapat dengan Komisi IX DPR RI membahas anggaran BGN tahun 2027.
"Jadi tadi sebenarnya saya menyampaikan bahwa itu proses yang biasa ya. Menurut surat dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Bappenas untuk 2027, sebenarnya kami mendapat alokasi pagu itu Rp 270.201.499.678.000 (Rp 270 triliun) itu untuk penerima manfaat 81,5 juta, itu 2027," ujar Arum kepada wartawan, Gedung DPR, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Ia menambahkan, pemerintah masih akan melakukan berbagai langkah perbaikan, termasuk refocusing penerima manfaat program.
"Namun tadi ketika kami sampaikan bahwa di dalam 2026 ini kan bulan Juni ya. Nah, Juli sampai akhir 2026 kami pun akan terus melakukan langkah-langkah perbaikan," tutur Arum.
Adapun salah satu fokus utama, yaitu menepatkan kembali sasaran penerima MBG, sehingga intervensi gizi lebih efektif.
"Salah satu langkah perbaikan yang kami lakukan adalah refocusing penerima manfaat. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, kami sudah berkoordinasi dengan beberapa kementerian yang lain yang intinya adalah memang secara teknis menurut Kementerian Kesehatan intervensi kesehatan gizi sebaiknya dilakukan," papar Arum.
"Misalnya teknisnya ya, itu adalah dari usia kandungan sampai dengan 1.000 hari pertama usia kelahiran itu volume otak bisa maksimal, lalu sampai dengan 2 tahun itu nanti ada intervensi gizi, lalu sampai dengan usia selanjutnya. Dari situlah kami melakukan refocusing penerima manfaat," jelas dia.
Arum menuturkan, sejumlah skema efisiensi masih terus dihitung, termasuk kemungkinan pengurangan jumlah penerima manfaat.
"Nah, beberapa hal sudah kami exercise, sudah kami exercise, namun mungkin secara angka kami belum sampai membahas dengan Kementerian Keuangan dan Bappenas. Tapi yang jelas akan ada efisiensi lagi," papar dia.
Ia lantas menyinggung contoh kelompok penerima yang dinilai perlu dievaluasi, termasuk siswa SMA dari kelompok ekonomi menengah atas.
"Contoh, misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp 100.000, Rp 200.000 gitu ya. Mungkin yang high class gitu itu tidak perlu lagi," tuturnya.
Dia mengatakan, upaya itu berpotensi mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat, namun tidak menghilangkan esensi program intervensi gizi pemerintah. Dia menegaskan, refocusing dilakukan agar bantuan lebih tepat sasaran dengan dampak anggaran yang lebih efisien.
"Nah, bahwa kemudian dampaknya ada penata ulang dapur itu kan dampaknya. Nah, tapi bukan itu tujuannya. Kita bicaranya penerima manfaat dulu, baru dampaknya ada dapur dan sebagainya. Kita akan tata ulang," tuturnya.
Evaluasi juga mencakup kualitas dan standar operasional dapur agar sesuai ketentuan teknis penyediaan makanan bergizi.
Pimpinan BGN. (NTVNews.id)