Alasan Keir Starmer Mundur dari Jabatan PM Inggris

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan istrinya Victoria Starmer memberikan suara mereka (7/5/2026). Jutaan pemilih di Inggris pergi ke tempat pemungutan suara untuk pemilihan lokal, yang dianggap sebagai pemilu paling komprehensif sejak pemilihan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan istrinya Victoria Starmer memberikan suara mereka (7/5/2026). Jutaan pemilih di Inggris pergi ke tempat pemungutan suara untuk pemilihan lokal, yang dianggap sebagai pemilu paling komprehensif sejak pemilihan (Antara)

Ntvnews.id, London - Keir Starmer resmi mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh pada Senin, 22 Juni 2026. Keputusan tersebut sekaligus membuatnya melepaskan jabatan sebagai Perdana Menteri Inggris.

Dalam sistem ketatanegaraan Inggris, posisi perdana menteri dipegang oleh pemimpin partai yang memenangkan pemilihan umum. Karena itu, pengunduran diri Starmer dari kursi ketua partai secara otomatis mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala pemerintahan.

Dengan langkah tersebut, Starmer menjadi perdana menteri keempat Inggris yang mengundurkan diri dalam lima tahun terakhir.

Pengunduran dirinya juga terjadi sehari sebelum peringatan 10 tahun referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit yang diperingati pada 23 Juni.

Dalam pidato yang disampaikan di Downing Street, London, Starmer menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan masukan dari anggota partainya.

Ia menyebut dua tahun menjabat sebagai perdana menteri merupakan salah satu periode paling membanggakan dalam hidupnya. Menurut Starmer, dirinya berhasil membawa Partai Buruh kembali memimpin pemerintahan setelah 14 tahun berada di luar kekuasaan.

Meski demikian, ia mengakui kepemimpinannya tidak luput dari kekurangan.

Baca Juga: PM Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya

"Namun saya tahu bahwa pertanyaan yang kini diajukan bukan lagi siapa yang paling tepat untuk mengubah Partai Buruh, membawa kami menuju kekuasaan, dan memulai pekerjaan penting untuk memperbaiki kehidupan jutaan orang. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah terjawab," ujar Starmer dalam pidatonya.

"Pertanyaan yang kini diajukan partai saya adalah apakah saya masih orang yang paling tepat untuk memimpin kami menuju pemilihan umum berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari fraksi parlemen partai saya terhadap pertanyaan tersebut, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada," paparnya menambahkan.

Starmer menegaskan bahwa seluruh keputusan politik yang diambilnya selama ini selalu berlandaskan kepentingan negara.

"Karena itulah saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh. Pagi ini saya telah berbicara dengan Yang Mulia Raja (Charlers III) untuk memberitahukan keputusan saya," kata Starmer.

Tekanan Politik dan Popularitas yang Merosot

Dalam beberapa bulan terakhir, Starmer menghadapi tekanan yang semakin besar dari internal partainya. Posisi politiknya kian terancam setelah rivalnya, Andy Burnham, meraih kemenangan telak dalam pemilihan sela terbaru.

Keberhasilan Burnham disebut mendorong sejumlah tokoh senior Partai Buruh, termasuk Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, untuk mendesak Starmer mundur dari kepemimpinan partai dan pemerintahan.

Sorotan terhadap Starmer juga menguat sejak Februari lalu setelah salah satu pejabat yang diangkatnya terseret dalam dokumen kasus yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein.

Nama Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson, tercantum dalam salah satu dokumen Epstein. Mandelson sendiri ditunjuk oleh Starmer pada Desember 2024.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara pada konferensi pers di London, Inggris, 1 April 2026. Starmer mengatakan bahwa Inggris akan menjadi tuan rumah KTT internasional pekan ini tentang pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. ANTARA/Ha <b>(Antara)</b> Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara pada konferensi pers di London, Inggris, 1 April 2026. Starmer mengatakan bahwa Inggris akan menjadi tuan rumah KTT internasional pekan ini tentang pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. ANTARA/Ha (Antara)

Burnham, yang telah menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester sejak 2017, secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk memperebutkan kepemimpinan Partai Buruh yang belakangan mengalami penurunan dukungan publik.

Dalam pidato kemenangannya, Burnham menegaskan bahwa Partai Buruh memiliki "kesempatan terakhir untuk berubah".

Jika terpilih memimpin partai, Burnham berpeluang besar otomatis menjadi perdana menteri karena Partai Buruh masih menguasai mayoritas kursi di parlemen Inggris.

Berdasarkan sejumlah survei, popularitas Starmer memang terus menurun. Data lembaga survei YouGov menunjukkan hanya 19 persen warga Inggris yang memiliki pandangan positif terhadap dirinya. Bahkan, ia berada di peringkat kesembilan dalam daftar politikus Partai Buruh paling populer.

Meski sempat berulang kali menyatakan akan melawan upaya penggulingan dirinya, tekanan internal semakin sulit dibendung setelah Burnham meraih kemenangan besar di daerah pemilihan Makerfield, Inggris barat laut.

Baca Juga: PM Inggris Keir Starmer Umumkan Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Dalam pemilu sela tersebut, Burnham hampir menggandakan mayoritas suara yang sebelumnya diraih Partai Buruh. Kemenangan itu semakin mengukuhkan posisinya sebagai tokoh paling berpengaruh di partai sekaligus penantang utama kepemimpinan Starmer.

Burnham, yang pernah menjadi anggota parlemen dan menteri pada era pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown, dikenal berasal dari faksi kiri-moderat Partai Buruh.

Reputasinya semakin menguat setelah berhasil mengalahkan kandidat dari Reform UK yang dipimpin Nigel Farage, tokoh yang dikenal sebagai salah satu penggerak utama Brexit.

Kemenangan tersebut dinilai menjadi momentum penting yang memperbesar peluang Burnham untuk mengambil alih kepemimpinan Partai Buruh sekaligus menduduki kursi perdana menteri Inggris.

x|close