Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menegaskan tekadnya untuk memperkuat kemandirian militer negaranya dengan mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat, khususnya dalam bidang persenjataan dan dukungan pertahanan.
Pernyataan tersebut disampaikan tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk melanjutkan perundingan di Swiss guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Selama ini, Israel diketahui mendorong Washington untuk mempertahankan tekanan dan operasi militer terhadap Iran yang dianggap Tel Aviv sebagai ancaman terbesar bagi keamanan negaranya.
"Saya sangat menghargai dukungan yang kami terima dari sahabat-sahabat kami di Amerika, tetapi kita harus melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun jaringan persenjataan yang mandiri," kata Netanyahu kepada para perwira cadangan yang mengikuti pelatihan di Tepi Barat yang diduduki Israel seperti tertulis dalam pernyataan kantornya yang dirilis Selasa, 23 Juni 2026.
Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut pada 18 Juni, sehari setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal di Swiss untuk mengakhiri perang. Kesepakatan antara Washington dan Teheran itu terus menuai penolakan dari pemerintah Israel.
Dalam sejumlah kesempatan, Netanyahu secara terbuka menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, yang memilih jalur diplomasi melalui perundingan dengan Iran.
Baca Juga: Mayoritas Warga Israel Anggap Iran Menang dalam Konflik Lawan AS
"Hari ini saya katakan: kita membutuhkan jaringan persenjataan yang benar-benar mandiri. Kita harus memproduksi senjata kita sendiri," ujar Netanyahu seperti dikutip AFP.
Seruan untuk membangun industri pertahanan yang lebih mandiri bukan kali pertama disampaikan Netanyahu. Sebelumnya, ia juga pernah menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan Israel terhadap bantuan dan dukungan militer Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan The Economist pada Januari lalu, Netanyahu menyatakan harapannya agar Israel dapat mencapai kemandirian tersebut dalam kurun waktu satu dekade.
Sementara itu, dalam wawancara dengan CBS pada Mei lalu, ia bahkan mengungkapkan keinginannya agar tingkat ketergantungan Israel terhadap bantuan AS dapat berkurang hingga mencapai "nol".
Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai sekutu utama Israel dan menjadi salah satu pemasok bantuan militer terbesar bagi negara tersebut. Namun, hubungan kedua negara beberapa kali mengalami ketegangan, terutama terkait cara Israel menjalankan berbagai operasi militer sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Donald Trump juga secara terbuka mengkritik Netanyahu. Pemerintah AS menilai operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon berpotensi menghambat proses perundingan damai yang sedang dijalankan dengan Iran.
Trump bahkan sempat melontarkan kritik keras kepada Israel dan Iran setelah kedua pihak dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri perang selama 12 hari pada tahun lalu.
Sebelumnya, ketika hubungan antara Washington dan Tel Aviv memanas akibat perbedaan pandangan terkait Iran pada Mei 2025, Netanyahu juga pernah menyatakan bahwa Israel perlu "menyapih diri" dari bantuan Amerika Serikat.
Pernyataan terbaru Netanyahu dinilai mencerminkan keinginan pemerintah Israel untuk memperkuat kapasitas industri pertahanan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan strategis terhadap sekutu utamanya, di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. (Antara)