Ntvnews.id, Tel Aviv Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk menarik pasukan yang saat ini ditematkan di wilayah Lebanon. Menurut Katz, sikap tersebut juga memperoleh dukungan dari Amerika Serikat (AS).
"Kami telah mengumumkan bahwa dalam keadaan apa pun kami tidak akan menarik diri dan, hingga saat in-dan ini adalah pencapaian diplomatik - tidak ada tuntutan Amerika agar Israel menarik diri dari Lebanon," kata Katz dalam pidatonya di Tel Aviv, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 25 Juni 2026.
Saat ditanya mengenai kemungkinan Israel mengikuti permintaan Washington apabila suatu saat diajukan, Katz menjelaskan bahwa dirinya telah menyampaikan alasan keberadaan pasukan Israel di Lebanon kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga disebut telah menjelaskan hal yang sama kepada Presiden AS Donald Trump.
Dalam forum yang sama, Netanyahu kembali menekankan bahwa militer Israel diperkirakan tetap bertahan di wilayah tersebut dan belum memiliki rencana untuk hengkang.
"Selama saya menjabat sebagai Perdana Menteri, kami akan mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan -- selama diperlukan," katanya. Ia menambahkan bahwa pasukan Israel saat ini terus melakukan pembongkaran terhadap berbagai infrastruktur milik Hizbullah.
Baca Juga: Israel Serang Lebanon, 30 Orang Tewas
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan negaranya serta menentang campur tangan pihak asing dalam urusan domestik Lebanon. Pernyataan tersebut juga dinilai sebagai sindiran terhadap Iran yang selama ini dikenal sebagai pendukung utama Hizbullah.
Pemerintah Iran sendiri kembali menegaskan bahwa stabilitas dan perdamaian di Lebanon menjadi salah satu elemen penting dalam upaya mencapai kesepakatan menyeluruh dengan Amerika Serikat guna mengakhiri konflik yang melanda kawasan Timur Tengah.
Pekan lalu, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan untuk membuka jalan menuju penyelesaian permanen hubungan kedua negara setelah pecahnya perang yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Orang-orang terlihat di jalan-jalan wilayah Dahieh setelah dimulainya gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Israel dan Lebanon pada 17 April 2026 di Beirut, Lebanon. ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu/pri. (Antara)
Konflik kemudian meluas ketika Hizbullah melancarkan serangan roket ke wilayah Israel pada 2 Maret. Kelompok tersebut menyatakan aksi itu sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam operasi militer gabungan AS dan Israel.
Sebagai respons, Israel melakukan serangan udara dan operasi darat ke Lebanon. Pemerintah Lebanon menyebut lebih dari 4.100 orang tewas akibat serangan tersebut. Situasi itu juga berujung pada pendudukan zona keamanan sepanjang sekitar 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan yang berbatasan langsung dengan Israel.
Saat ini, Israel dan Lebanon tengah menjalani putaran perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington. Pembicaraan tersebut difokuskan pada upaya mencari solusi diplomatik atas konflik yang berlangsung, termasuk pembahasan mengenai pelucutan senjata Hizbullah dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Ilustrasi - Bendera Israel (kiri) dan Bendera Lebanon menandai gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri) (Antara)