Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pujian kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena tidak ikut campur dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Trump bahkan menilai Erdogan berpotensi terlibat dalam konflik tersebut dan berpihak kepada Teheran, mengingat sikap kritis pemimpin Turki itu terhadap Israel.
"Dia adalah kandidat utama untuk ikut dalam perang melawan Iran, mungkin di pihak Iran, karena dia bukan penggemar besar Israel," kata Trump, dikutip dari Times of Israel, Kamis, 2 Juli 2026.
Meski demikian, hingga kini Turki tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan bergabung dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Bahkan selama eskalasi konflik berlangsung, wilayah Turki sempat menjadi target serangan Iran.
"Saya memintanya untuk tidak ikut campur. Dan dia tidak ikut campur," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.
"Erdogan adalah pemimpin yang hebat, sosok yang sangat kuat. Semua yang pernah saya minta darinya selalu dia lakukan," lanjutnya.
Pernyataan Trump tersebut disampaikan di tengah meningkatnya retorika keras Presiden Erdogan dan sejumlah pejabat tinggi Turki terhadap Israel. Pada awal bulan ini, Menteri Dalam Negeri Turki bahkan menyerukan agar Israel "membebaskan" Yerusalem.
Beberapa hari setelahnya, Erdogan kembali melontarkan kritik terhadap Israel dengan menyatakan bahwa "agresi" yang dilakukan negara tersebut merupakan ancaman bagi dunia internasional dan harus segera dihentikan. Erdogan juga menilai serangan Israel ke Lebanon dan Suriah turut menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Turki.
Hubungan antara Israel dan Turki, yang pada masa lalu dikenal sebagai salah satu kemitraan bilateral terkuat di kawasan Timur Tengah, terus mengalami kemunduran sejak Erdogan memimpin Turki. Ketegangan kedua negara semakin meningkat setelah pecahnya perang di Jalur Gaza yang dipicu serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan pemerintahannya menyiapkan paket penjualan persenjataan besar kepada Turki menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi NATO mendatang. Paket tersebut disebut-sebut mencakup pesawat tempur siluman F-35 dan puluhan mesin jet.
"Saya rasa begitu. Lihat saja... Saya mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya sangat senang," kata Trump.
Baca Juga: Erdogan Kecam Hukuman Mati Tahanan Palestina, Samakan dengan Tindakan Hitler
Saat ditanya lebih lanjut mengenai syarat yang harus dipenuhi Turki agar dapat kembali memperoleh pesawat tempur F-35, Trump mempersilakan Wakil Presiden JD Vance untuk memberikan penjelasan.
"Ada sejumlah persyaratan yang harus kami pastikan telah dipenuhi agar sesuai dengan hukum Amerika Serikat. Presiden telah meminta kami melakukannya sehingga mereka dapat memperoleh F-35. Ini pada dasarnya merupakan persoalan yang melibatkan Kongres," ujar Vance.
Trump kemudian menyela penjelasan tersebut dan menyatakan keyakinannya bahwa persoalan itu pada akhirnya dapat diselesaikan.
Pesawat tempur F-35 sendiri merupakan salah satu pesawat tempur siluman tercanggih di dunia yang dikembangkan Amerika Serikat bersama sejumlah negara anggota NATO melalui program Joint Strike Fighter.
Namun, pada 2019, Amerika Serikat memutuskan mengeluarkan Turki dari program pengembangan F-35 setelah Ankara tetap melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.
Berdasarkan regulasi yang berlaku di Amerika Serikat, Turki tidak dapat memiliki maupun mengoperasikan sistem S-400 apabila ingin kembali bergabung dalam program F-35.
Meski demikian, Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, menyatakan pada Desember lalu bahwa hubungan personal yang baik antara Trump dan Erdogan telah membuka jalan bagi kedua negara untuk melakukan "pembicaraan paling produktif mengenai isu ini dalam hampir satu dekade terakhir."
Jika diperlukan, saya juga dapat membuat versi yang lebih ringkas dan bergaya hard news khas media nasional Indonesia dengan lead yang lebih kuat.
Arsip - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat memberikan pernyataan dalam konferensi pers usai pertemuan kabinet di Ankara, Turki, Senin (9/3/2026). (ANTARA/Xinhua/HO-Mustafa Kaya/aa) (Antara)