Oposisi Israel Beri Sinyal Perbedaan dengan Netanyahu dalam Kebijakan Luar Negeri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jul 2026, 21:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (ANTARA/Xinhua/am)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Sejumlah tokoh utama oposisi Israel memanfaatkan Konferensi Herzliya, salah satu forum kebijakan paling bergengsi di negara itu, untuk memaparkan agenda politik mereka. Namun, para analis dan pengamat menilai pandangan kebijakan luar negeri yang mereka usung tidak memiliki perbedaan mendasar dengan pemerintahan sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Tiga figur utama oposisi, yakni mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot, mantan Perdana Menteri Yair Lapid, dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, tidak banyak melontarkan kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, maupun Iran saat berbicara di Universitas Reichman pada Rabu lalu.

Sebaliknya, kritik yang mereka sampaikan lebih banyak diarahkan pada cara Netanyahu menjalankan perang serta apa yang mereka nilai sebagai ketergantungan pemerintah Israel terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut mereka, sikap Trump telah membatasi Israel untuk melanjutkan operasi militer di Lebanon dan Iran secara lebih agresif.

Dalam pidatonya, Bennett, yang diperkirakan akan kembali bersaing bersama Lapid dalam pemilihan umum mendatang, menegaskan bahwa kritiknya terhadap pemerintah lebih berfokus pada efektivitas pelaksanaan perang.

“Setelah seribu hari perang, kebenaran harus diungkapkan: Hamas mempersenjatai diri kembali di selatan, Hizbullah semakin kuat, menyerang tentara kita dan mengancam warga negara kita, dan kepala gurita, rezim di Teheran, tetap berdiri tegak,” kata Bennett, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat 3 Juli 2026.

Sementara itu, Eisenkot, yang berdasarkan sejumlah survei menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Netanyahu pada pemilu akhir tahun ini, juga mengkritik pendekatan pemerintahan saat ini. Ia menuduh Netanyahu melebih-lebihkan ancaman nuklir Iran, meski tetap mendukung secara prinsip operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Baca Juga: Bupati Langkat Tiba di Gedung KPK, Jalani Pemeriksaan Lanjutan usai OTT

Tokoh oposisi lain seperti Yair Lapid turut menyoroti semakin terisolasinya Israel di panggung internasional. Menurut mereka, citra Israel di mata banyak negara kini semakin dipandang ekstrem dan tidak stabil.

Meski demikian, Netanyahu terus mempertahankan retorika keras yang selama ini identik dengan anggota kabinetnya, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel pada Kamis, Netanyahu menegaskan bahwa konflik yang dihadapi negaranya tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

“Ini tidak akan pernah berakhir,” kata Netanyahu sambil menatap kamera.

“Dengarkan saya: Ini tidak akan pernah berakhir. Anda ingin hidup? Anda ingin hidup di Timur Tengah, dan, secara umum, di dunia? Jadilah kuat. Dan kami sangat kuat,” lanjutnya.

Perbedaan Gaya, Bukan Substansi

Anggota parlemen dari Partai Hadash, Aida Touma-Sliman, menilai bahwa perbedaan antara oposisi arus utama Israel dan pemerintahan Netanyahu lebih bersifat gaya politik ketimbang substansi kebijakan.

"Oposisi benar-benar percaya pada apa yang mereka katakan. Politisi seperti Eisenkot, Lapid, dan Bennett mencerminkan masyarakat Israel," ujar Touma-Sliman kepada Al Jazeera.

Menurutnya, perbedaan antara oposisi dan pemerintah hanya terlihat dalam isu domestik. Sementara terkait konflik di Gaza, serangan ke Iran, maupun operasi militer di Lebanon, sebagian besar elite politik Israel memiliki pandangan yang sejalan.

"Mereka semua setuju dengan kampanye yang diluncurkan Netanyahu; mereka hanya mengkritiknya atas cara pelaksanaannya, dan karena entah bagaimana menjadikan Israel sebagai proksi AS, seolah-olah itu tidak selalu terjadi," katanya.

Dukungan publik Israel terhadap operasi militer di Iran dan Lebanon juga disebut masih sangat tinggi. Sementara itu, survei mengenai perang di Gaza, yang menurut sejumlah laporan internasional telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, lebih banyak berfokus pada persepsi ancaman keamanan dibandingkan dampak kemanusiaannya.

Sosiolog terkemuka Israel, Yehouda Shenhav-Shahrabani, menilai meningkatnya pandangan nasionalis dan sayap kanan di masyarakat Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 turut membentuk sikap politik para tokoh oposisi.

“Eisenkot, Lapid, dan Bennett mencerminkan dengan cukup tepat kondisi masyarakat Israel saat ini," kata Shenhav-Shahrabani.

Ia menambahkan bahwa oposisi mendukung perang terhadap Iran dan Lebanon, tetapi hanya mengkritik Netanyahu karena dinilai gagal memperhitungkan dinamika politik Presiden AS Donald Trump.

“Pihak oposisi mendukung perang absurd dengan Iran, dan hanya mengkritik Netanyahu karena gagal mempertimbangkan volatilitas Trump. Mereka juga mendukung perang di Lebanon, tanpa mendorong kesepakatan politik dengan pemerintah Lebanon,” ujarnya.

Shenhav-Shahrabani juga menyoroti minimnya keterlibatan politisi Arab-Israel dalam koalisi oposisi. Menurutnya, sebagian besar kelompok oposisi tetap mempertahankan konsep pemerintahan yang eksklusif bagi warga Yahudi.

“Seolah-olah pemerintah harus tetap murni Yahudi. Ini hampir tidak mengejutkan, karena ketiganya juga menentang kebebasan bagi warga Palestina. Jadi, singkatnya: wanita yang sama, hanya berbeda penampilan,”pungkas Shenhav-Shahrabani.

x|close