Ntvnews.id, Riyadh - Kelompok Houthi yang menguasai wilayah utara Yaman menuduh Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa pada Senin, 13 Juli 2026. Insiden tersebut disebut berpotensi mengakhiri masa de-eskalasi dalam konflik berkepanjangan antara Riyadh dan kelompok yang didukung Iran itu.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan agresi terbuka dan menegaskan kelompoknya akan melakukan pembalasan.
“Kekuatan regional Arab Saudi akan menanggung konsekuensinya dan bahwa serangan itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” ujar Saree, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa, 14 Juli 2026.
Di tengah meningkatnya ketegangan, otoritas penerbangan sipil pemerintah Yaman yang diakui secara internasional memutuskan menutup seluruh bandara di negara itu untuk seluruh aktivitas penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan.
Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan yang disampaikan Houthi.
Sebelumnya pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pihaknya menargetkan landasan pacu Bandara Internasional Sanaa guna mencegah pesawat Iran mendarat di lokasi tersebut.
Baca Juga: Houthi Buka Front Baru Serang Israel, Ancam Jalur Perdagangan Laut Merah
Namun, juru bicara militer Yaman kemudian menyampaikan bahwa pesawat tersebut akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Hodeidah yang berada di bawah kendali Houthi.
Pemerintah Yaman yang berbasis di Kota Aden memperoleh dukungan dari Arab Saudi serta sejumlah negara Teluk. Sementara itu, Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman sejak pecahnya perang saudara lebih dari satu dekade lalu.
Meski gencatan senjata yang dicapai pada 2022 relatif mampu meredam konflik antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan Houthi, ketegangan kembali meningkat seiring dampak perang Israel-Gaza, serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah, serta meningkatnya konflik yang melibatkan Iran.
Situasi semakin rumit setelah kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab menguasai sejumlah wilayah di selatan Yaman pada tahun lalu, sehingga memicu perpecahan di dalam koalisi yang sebelumnya dibentuk untuk menghadapi Houthi.
Menteri Informasi pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Moammar bin Mutahar Al-Eryan, juga menuduh Houthi menahan sebuah pesawat milik Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Bandara Sanaa beserta pilot dan kopilotnya.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Yaman mengungkapkan pemerintah sebelumnya telah menempuh jalur diplomatik agar Iran dan Houthi menghentikan penerbangan yang disebut melanggar wilayah udara Yaman. Ia menegaskan militer akan merespons setiap pesawat yang dianggap melanggar wilayah udara negara itu.
Pemerintah Yaman menyatakan serangan terhadap landasan pacu Bandara Sanaa dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat.
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)
“Milisi Houthi, yang didukung oleh rezim Iran, mencegah pesawat nasional Yaman mendarat di bandara ibu kota, Sanaa, dan bersikeras bahwa pesawat Iran melanggar wilayah udara Yaman. Oleh karena itu, landasan pacu bandara menjadi sasaran,” kata pemerintah dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan juga telah memperingatkan warga sipil, para pekerja, misi diplomatik, serta organisasi kemanusiaan agar segera meninggalkan kawasan bandara hingga pemberitahuan selanjutnya.
Sementara itu, Houthi tetap menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut meski tidak menyertakan bukti pendukung.
Juru bicara militer Houthi kembali menegaskan ancaman pembalasan.
“agresi ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan atau hukuman”.
Beberapa waktu kemudian, Houthi mengumumkan pesawat yang membawa delegasi dari Teheran telah mendarat di Bandara Al Hudaydah di pesisir Laut Merah.
Media milik Houthi, Al-Masirah, mengutip pernyataan menteri transportasi kelompok tersebut yang mengatakan, “pesawat Iran telah mendarat di tanah air, membawa sejumlah pasien medis dan warga yang terdampar, didampingi oleh delegasi resmi Republik Yaman”.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah kelompok itu menuduh Riyadh menyerang pesawat Iran yang mendarat di Sanaa. Houthi bahkan mengancam akan menyerang bandara serta aset-aset vital Arab Saudi apabila wilayah udaranya kembali dilanggar atau menjadi sasaran serangan.
Houthi Yaman tangkap staf WFP PBB dan serbu kantor pusatnya di Sanaa. (ANTARA)