Ntvnews.id, Riyadh - Keinginan Israel untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Arab Saudi kembali ditegaskan Presiden Israel Isaac Herzog dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Al Arabiya yang berbasis di Riyadh. Menurutnya, normalisasi hubungan dengan Kerajaan Saudi menjadi salah satu target diplomatik terbesar bagi Israel.
"Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi. Saya sangat menghormati Putra Mahkota Mohammed Bin Salman," kata Herzog kepada Al Arabiya, merujuk pada pemimpin de facto Arab Saudi.
Dorongan normalisasi tersebut juga berkaitan dengan kesepakatan kerja sama nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Dalam perkembangan terbaru, pengakuan Riyadh terhadap Israel disebut menjadi salah satu syarat dalam kesepakatan tersebut, meski selama ini pemerintah Saudi konsisten menolak bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords) bersama Israel.
Di sisi lain, posisi Arab Saudi terhadap konflik Israel-Palestina tidak berubah. Riyadh terus menegaskan bahwa pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel hanya dapat dilakukan apabila negara Palestina diakui secara resmi.
Arab Saudi juga telah menyampaikan kepada Washington bahwa mereka tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sebelum negara Palestina yang merdeka diakui berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Bagi Israel, normalisasi dengan Arab Saudi memiliki nilai strategis yang sangat besar. Berdasarkan kajian Brookings, hubungan resmi dengan Riyadh akan menjadi bentuk legitimasi paling signifikan bagi Israel dalam mengakhiri isolasi politiknya di kawasan Timur Tengah.
Lebih dari itu, keberhasilan menjalin hubungan dengan Arab Saudi dinilai dapat mengubah pandangan bahwa integrasi Israel di kawasan hanya dapat terwujud setelah penyelesaian penuh terhadap persoalan kemerdekaan Palestina.
Baca Juga: Netanyahu Senang Syarat Trump soal Normalisasi Saudi-Israel dalam Kesepakatan Nuklir
Meski belum memiliki hubungan diplomatik resmi, Israel dan Arab Saudi diketahui pernah menjalin kerja sama secara rahasia sejak awal 1960-an. Saat itu, kedua pihak sama-sama mendukung kelompok Royalis di Yaman yang berperang melawan pemerintahan Republik yang didukung Mesir dan Uni Soviet di Sana'a.
Pada masa tersebut, badan intelijen kedua negara disebut berkoordinasi dalam pengiriman persenjataan dan dukungan teknis kepada kelompok Royalis yang berbasis di Arab Saudi. Kontak antara pejabat intelijen Israel dan Saudi juga dilaporkan pernah berlangsung di Hotel Dorchester, London. Hubungan informal tersebut semakin berkembang setelah ditandatanganinya Perjanjian Oslo antara Israel dan Palestina pada 1993.
Meski demikian, dukungan publik di Arab Saudi terhadap normalisasi hubungan dengan Israel terus mengalami penurunan, terutama sejak pecahnya perang di Gaza.
Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)
Survei Arab Barometer periode 2023–2024 menunjukkan tingkat dukungan terhadap normalisasi tidak pernah melampaui 13 persen di tujuh negara yang disurvei. Di Maroko, misalnya, dukungan terhadap hubungan dengan Israel turun dari 31 persen pada 2022 menjadi 13 persen setelah peristiwa 7 Oktober 2023.
Hasil survei Washington Institute for Near East Policy yang dipublikasikan pada Agustus 2025 bahkan menunjukkan penolakan yang jauh lebih besar. Sebanyak 99 persen responden di Arab Saudi menilai pembentukan hubungan normal dan perdamaian dengan Israel merupakan langkah yang negatif.
Sebagai perbandingan, survei pada 2020 mencatat 41 persen warga Saudi memandang Abraham Accords sebagai perkembangan positif bagi kawasan. Namun, angka tersebut terus merosot menjadi 20 persen pada 2023 dan kembali turun menjadi 13 persen pada 2025, sebagaimana dilaporkan The Institute for National Security Studies (INSS).
Benjamin Netanyahu (Istimewa)