Maroko Ungkap Penyebab Puluhan Ribu Migran Berenang Masuk ke Ceuta Spanyol

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Agu 2026, 05:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol (Instagram @wj._com)

Ntvnews.id, Rabat - Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Maroko memberikan penjelasan terkait gelombang migrasi besar-besaran yang melibatkan puluhan ribu warganya dan terjadi ketika mereka berenang menuju Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.

Dilansir dari AFP, Selasa, 4 Agustus 2026, dalam keterangan resminya, Kemdagri Maroko menyebut arus migrasi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antaranya penyebaran informasi keliru melalui media sosial, aktivitas kelompok perdagangan manusia, serta kesalahpahaman terhadap putusan terbaru Mahkamah Agung (MA) Spanyol.

Pada 8 Juli lalu, MA Spanyol memutuskan bahwa migran yang berhasil dicegat ketika berada di laut tidak dapat langsung dipulangkan ke negara asalnya. Namun, ketentuan tersebut tidak diberlakukan bagi migran yang masuk ke Spanyol melalui jalur darat.

Kemdagri Maroko menyatakan keputusan tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong sekitar 40 ribu orang mencoba memasuki wilayah Ceuta melalui jalur laut.

Penjelasan tersebut disampaikan pemerintah Maroko setelah Uni Eropa menyoroti peristiwa masuknya puluhan ribu migran ke Spanyol melalui Ceuta. Gelombang kedatangan tersebut berlangsung sejak Rabu hingga Jumat pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Prancis Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026, Macron: Les Bleus Kami, Maroko Lawan Tangguh

Berdasarkan data Kemdagri Spanyol, jumlah migran yang berusaha memasuki wilayah tersebut mencapai sekitar 50 ribu orang. Dari jumlah tersebut, 72 orang dilaporkan meninggal dunia dan sebagian besar korban tewas akibat tenggelam.

Sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa secara bersama-sama mengecam arus migrasi massal tersebut. Mereka khawatir peristiwa itu dapat menimbulkan anggapan bahwa memasuki wilayah Eropa secara ilegal merupakan sesuatu yang diperbolehkan.

Italia bahkan merespons dengan menghentikan sementara penerapan kebijakan perbatasan terbuka Schengen terhadap Spanyol. Keputusan tersebut kemudian mendapat kecaman dari pemerintah Madrid.

Sementara itu, Prancis dan Portugal mengambil langkah dengan meningkatkan jumlah personel keamanan serta memperketat pengawasan perbatasan, baik di wilayah darat maupun laut.

Kemdagri Spanyol kemudian menyampaikan bahwa kondisi di Ceuta telah berangsur normal. Hingga Sabtu, 1 Agustus 2026, "hampir semua" migran yang sebelumnya memasuki wilayah tersebut telah dikembalikan ke Maroko.

HIGHLIGHT

x|close