Malaysia Lakukan PenyelidIkan Pilot yang Selundupkan Puluhan Ribu Narkoba ke RI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Agu 2026, 06:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tersangka MSBO, seorang pilot warga negara asing (WNA) yang ditangkap atas dugaan menjadi kurir ekstasi 25 kilogram menuju Indonesia. Tersangka MSBO, seorang pilot warga negara asing (WNA) yang ditangkap atas dugaan menjadi kurir ekstasi 25 kilogram menuju Indonesia. (Antara)

Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Kasus penyelundupan narkotika ke Indonesia yang melibatkan seorang kopilot asal Malaysia terus berkembang dan mengungkap sejumlah fakta baru.

Mohd Saufi bin Othman atau MSO (39), yang diduga berperan sebagai kurir sabu dan ekstasi, ternyata juga membawa sebuah botol kecil berisi urine. Cairan tersebut diduga disiapkan untuk mengantisipasi pemeriksaan narkoba secara mendadak.

Otoritas Malaysia kini melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap kasus MSO, kopilot berkewarganegaraan Malaysia yang ditangkap setelah membawa narkotika dalam jumlah besar dari Malaysia menuju Indonesia.

Penyelidikan melibatkan Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM), Kementerian Perhubungan Malaysia (MOG), Badan Pengawasan dan Perlindungan Perbatasan Malaysia (AKPS), serta Grup Aviasi Malaysia (MAG).

Direktur Jenderal AKPS Mohd Shuhaily Mohd Zain mengatakan MSO sebelumnya berhasil melewati seluruh tahapan pemeriksaan yang diwajibkan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Dalam konferensi pers di Terminal 1 KLIA pada Minggu, 2 Agustus 2026, Shuhaily menjelaskan bahwa berdasarkan penelusuran sementara, MSO telah menjalani pemeriksaan sebelum menaiki pesawat pada 28 Juli.

Namun, otoritas Malaysia kemudian terkejut setelah mengetahui petugas Bea Cukai di Jakarta menemukan 14 bungkus ekstasi yang berisi lebih dari 70.000 tablet di dalam koper MSO. Petugas juga menemukan sekitar 4 gram metamfetamin di tas tangannya.

"Dalam pemeriksaan yang dilakukan seperti biasa dengan mesin pemindai kami, tidak ada gambar mencurigakan yang muncul saat tas diperiksa. Karena itu, tas tersebut lolos pemeriksaan," kata Shuhaily dalam konferensi pers, dikutip dari The Strait Times.

Baca Juga: Keamanan Jadi Alasan Utama Piala Presiden 2026 Digelar Tanpa Penonton

Menurut dia, sistem pemeriksaan di KLIA menggunakan kombinasi teknologi kecerdasan buatan dan penilaian petugas. Pemindai akan menentukan tingkat risiko secara otomatis, kemudian petugas keamanan memutuskan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

"Kami sedang menunggu tanggapan dari pihak kepolisian agar kami dapat mempelajari bagaimana dia lolos dari pemeriksaan tanpa terdeteksi," sambungnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Antara di Kuala Lumpur, kepolisian Malaysia masih menelusuri bagaimana MSO dapat melewati pemeriksaan di Bandara Internasional Kuala Lumpur tanpa terdeteksi membawa narkotika.

Shuhaily menegaskan bahwa seluruh kru penerbangan di Malaysia harus menjalani prosedur pemeriksaan ketat sebelum melakukan penerbangan.

Dia menjelaskan, pelaku kejahatan biasanya memiliki cara tertentu untuk menghindari pemeriksaan ketika menjalankan aksinya, termasuk dalam kasus penyelundupan narkotika. Modus tersebut kini menjadi salah satu hal yang tengah didalami aparat Malaysia.

Otoritas Malaysia juga memastikan tidak akan memberikan toleransi apabila penyelidikan menemukan keterlibatan petugas yang membantu MSO melewati pemeriksaan di KLIA hingga dapat membawa narkotika ke Indonesia.

Di sisi lain, Grup Aviasi Malaysia menyatakan akan memperketat sekaligus meningkatkan prosedur pemeriksaan terhadap seluruh awak pesawat.

Dikutip dari kantor berita Malaysia, Bernama, Shuhaily meminta masyarakat memberikan waktu dan kesempatan kepada aparat untuk menjalankan proses penyelidikan internal serta penegakan hukum.

Shuhaily mengatakan dirinya akan memimpin penyelidikan internal tersebut. Dia juga menegaskan AKPS akan mengambil tindakan apabila kepolisian menemukan indikasi pelanggaran dalam proses pemeriksaan di pintu skrining KLIA.

"Saya akan memimpin dari PDRM pada investigasi internasional. Jika PDRM menemukan permainan apapun di dalam agensi saya, saya kira orang-orang harus lebih waspada," katanya.

Ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta

Kasubdit Penegakan Hukum Penerbangan Dody Dharma Cahyadi memberikan keterangan resmi terkait pengungkapan kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan oknum pilot dari negara Malaysia di Bandara Soetta, Tangerang, Banten pada Jumat, 31 Juli 2026, <b>(Antara)</b> Kasubdit Penegakan Hukum Penerbangan Dody Dharma Cahyadi memberikan keterangan resmi terkait pengungkapan kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan oknum pilot dari negara Malaysia di Bandara Soetta, Tangerang, Banten pada Jumat, 31 Juli 2026, (Antara)

MSO sebelumnya ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah petugas Bea Cukai menemukan sesuatu yang mencurigakan dalam bagasinya melalui pemeriksaan X-ray di Terminal 3 Kedatangan Internasional pada Selasa, 28 Juli 2026 sekitar pukul 23.30 WIB.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan lebih mendalam terhadap koper dan pemiliknya di ruang pemeriksaan Bea Cukai.

"Petugas melihat salah satu koper yang mencurigakan, setelah koper tersebut di ambil oleh pemiliknya atas nama Mohd Saufi bin Othman yang merupakan pilot salah satu maskapai penerbangan asing," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, Kamis, 30 Juli 2026.

Dari pemeriksaan tersebut, petugas menemukan 14 bungkus besar narkotika serta satu paket sabu di dalam koper. Temuan tersebut selanjutnya diteruskan kepada Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri untuk ditindaklanjuti.

Baca Juga: Pilot Asing Diduga Jadi Kurir 25 Kg Ekstasi, Polri Beberkan Kronologi Penangkapan

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, MSO mengaku mendapat perintah dari seseorang untuk membawa sabu ke Jakarta. Atas tugas tersebut, dia disebut dijanjikan bayaran sebesar RM50.000.

Penyelidikan lebih lanjut kemudian menemukan fakta lain. MSO ternyata membawa sebuah botol kecil berisi urine di dalam tasnya.

Humas Bea Cukai Soekarno-Hatta Satria Yudhatama mengatakan botol tersebut diduga disiapkan sebagai upaya mengantisipasi pemeriksaan narkoba secara tiba-tiba.

Namun, urine yang dibawa itu belum sempat digunakan ketika petugas melakukan pemeriksaan urine terhadap MSO. Botol tersebut ditemukan tersimpan di dalam tas miliknya.

"Di dalam tas tersangka Pilot MSO ditemukan botol kecil berisi cairan kuning yang ternyata urine. Dari pengakuan botol tersebut berisi urine 'bersih' sebelum yang bersangkutan mengkonsumsi narkotika. Jadi jika ada tes urine mendadak oleh maskapai atau otoritas penerbangan, akan digunakan yang di botol tersebut," jelasnya.

Positif Sabu, Ekstasi, dan Kokain

Tersangka MSBO, seorang pilot warga negara asing (WNA) yang ditangkap atas dugaan menjadi kurir ekstasi 25 kilogram menuju Indonesia. <b>(Antara)</b> Tersangka MSBO, seorang pilot warga negara asing (WNA) yang ditangkap atas dugaan menjadi kurir ekstasi 25 kilogram menuju Indonesia. (Antara)

Pemeriksaan urine yang dilakukan petugas kemudian menunjukkan bahwa MSO positif menggunakan tiga jenis narkotika, yaitu sabu, ekstasi, dan kokain.

"Dari hasil pemeriksaan tes urine, ternyata positif memakai sabu, ineks, dan kokain. Jadi, pada saat terbang itu sedang memakai," kata Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang kepada wartawan, Minggu, 2 Agustus 2026.

Hasil tersebut menunjukkan adanya dugaan bahwa tersangka berada di bawah pengaruh narkotika ketika menjalankan tugasnya sebagai penerbang pesawat.

"Jadi, pada saat terbang itu sedang memakai (narkoba)," ucapnya.

Sementara itu, Malaysia Airlines menyatakan menghormati proses hukum yang tengah berjalan di Indonesia. Maskapai tersebut juga menyatakan siap bekerja sama dengan aparat berwenang selama penyelidikan berlangsung.

"Malaysia Airlines ingin menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran dan saat ini sedang melakukan peninjauan internal atas masalah tersebut," katanya, dilansir Free Malaysia Today, Jumat, 31 Juli 2026.

HIGHLIGHT

x|close