Ntvnews.id, Kathmandu - Keputusan cepat seorang kepala sekolah di Nepal untuk mengevakuasi para siswa berhasil menyelamatkan sekitar 900 murid dari terjangan banjir bandang. Evakuasi dilakukan hanya sekitar 10 menit sebelum air bah mencapai kawasan sekolah.
Dilansir dari BBC, Selasa, 1 September 2026, Rajendra Dawadi, Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli di Nuwakot, Nepal, mengatakan kepada BBC bahwa dirinya menerima empat panggilan telepon pada pukul 09.10 waktu setempat. Seluruh panggilan tersebut berisi peringatan mengenai ancaman bencana yang akan segera terjadi.
Saat itu, banjir bandang telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 794 orang dilaporkan meninggal dunia.
Mendapatkan informasi tersebut, Dawadi tidak membuang waktu dan langsung mengambil keputusan untuk mengevakuasi seluruh siswa. Ia meminta para murid bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi. Bus sekolah yang tengah mengangkut siswa juga diperintahkan untuk berbalik dan segera menjauh dari kawasan tersebut.
"Jika kami tidak mengambil keputusan dengan cepat, jika terlambat 10 menit saja, kami semua, termasuk para siswa dan saya sendiri, tidak akan bisa berbicara dengan Anda hari ini," ujar Dawadi.
Peringatan mengenai banjir datang dari empat sumber berbeda dalam waktu berdekatan. Informasi tersebut membuat Dawadi semakin yakin bahwa ancaman yang dihadapi sangat serius.
Salah satu peringatan bahkan datang dari orang tua siswa yang langsung mendatangi sekolah untuk menjemput anaknya.
"Seorang orang tua murid datang dan mengatakan, 'banjir besar sedang menuju ke sini. Saya datang untuk menjemput putri saya, saya akan membawanya pulang'," ujarnya.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal Hancurkan Pemukiman, 10.000 Keluarga Terdampak
Dawadi menilai kedatangan orang tua tersebut menjadi alasan kuat untuk segera bertindak tanpa menunggu kepastian lebih lanjut.
"Orang tua tidak akan terburu-buru tanpa alasan yang kuat. Saat itu saya yakin bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan sedetik pun untuk mengevakuasi anak-anak.
"Saya memutuskan tidak boleh menunda lagi. Kalaupun banjir itu tidak datang, yang hilang hanya satu hari kegiatan belajar-mengajar.
"Saya bangga karena kami berhasil menyelamatkan begitu banyak nyawa."
Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Nepal pada Rabu sebelumnya dilaporkan menyebabkan sedikitnya 2.426 orang hilang. Sekolah tempat Dawadi bertugas juga tidak luput dari dampak bencana. Bangunan sekolah tertutup lumpur dan material yang terbawa arus.
Dawadi menceritakan bahwa air datang dengan kecepatan sangat tinggi. Sebuah bangunan asrama yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari sungai bahkan langsung diterjang dan terendam banjir.
Salah seorang siswa, Yunisha Amatya, 16 tahun, menjadi bagian dari ratusan murid yang berhasil menyelamatkan diri sesaat sebelum banjir tiba.
Pada awal kejadian, sebagian siswa belum menyadari seberapa besar ancaman yang sedang mereka hadapi.
"Saya dan teman-teman saya selamat hanya karena selisih sekitar 10 detik," katanya kepada BBC.
Saat banjir mulai mendekat, Yunisha bersama teman-temannya masih berada di ruang kelas untuk mengikuti kegiatan belajar.
"Saya dan teman-teman saya selamat hanya karena selisih sekitar 10 detik," katanya kepada BBC.
"Sesaat sebelum banjir datang, kami sedang belajar di kelas. Para guru berkumpul di satu tempat dan pada awalnya tidak tahu apa yang terjadi. Lima menit kemudian, guru-guru datang dan memberi tahu kami tentang banjir itu serta meminta kami pulang."
Yunisha mengatakan salah satu siswa bahkan sempat kehilangan kesadaran setelah mendengar kabar mengenai banjir. Sementara itu, sebagian murid lainnya belum menganggap ancaman tersebut serius dan masih menunggu teman-teman mereka yang sedang mengikuti pelajaran matematika.
Yunisha bersama teman-temannya akhirnya memilih segera menyelamatkan diri. Mereka menggunakan jalur evakuasi di belakang sekolah untuk menuju kawasan yang lebih tinggi.
Para pekerja menggunakan ekskavator untuk membersihkan lumpur pascabanjir bandang di Dhunge Bazaar, Distrik Nuwakot, Nepal, Sabtu (29/8/2026) (Antara)
"Saya tidak bisa berjalan cepat, dan teman-teman membantu saya naik ke tempat yang lebih tinggi. Kami berusaha sekuat mungkin mencapai area yang lebih aman. Kami melarikan diri melalui tangga sempit di bagian belakang sekolah. Dalam sekejap, pasar di depan mata saya tersapu banjir," ujarnya, merujuk pada pasar yang berada di sekitar sekolah.
"Saya tidak bisa berjalan cepat, dan teman-teman membantu saya naik ke tempat yang lebih tinggi. Kami berusaha sekuat mungkin mencapai area yang lebih aman. Kami melarikan diri melalui tangga sempit di bagian belakang sekolah. Dalam sekejap, pasar di depan mata saya tersapu banjir," ujarnya, merujuk pada pasar yang berada di sekitar sekolah.
"Kalau sepatu saya tidak memiliki daya cengkeram yang baik, saya mungkin sudah terjatuh. Saat berusaha menyelamatkan diri, para siswa dan warga saling berdesakan untuk mencapai tempat yang aman. Orang-orang yang memilih melarikan diri melalui jalur lain tampaknya terseret arus banjir."
Para guru dan siswa awalnya bergerak sejauh beberapa ratus meter menuju tempat yang lebih tinggi. Setelah itu, mereka melanjutkan evakuasi hingga mencapai sebuah desa yang berada di sekitar lokasi.
Baca Juga: PM China Li Qiang Cek Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet
Namun, kondisi jalan yang rusak dan terputus akibat banjir membuat akses transportasi lumpuh. Sebagian pengungsi bahkan harus bertahan selama dua malam sebelum akhirnya ditemukan dan dijangkau oleh tim penyelamat.
Dawadi dan Yunisha yang tinggal di seberang sungai dari lokasi sekolah kemudian dievakuasi menggunakan helikopter menuju kampung halaman mereka.
Di sisi lain, para orang tua siswa diliputi kecemasan karena kesulitan mendapatkan informasi mengenai kondisi anak-anak mereka.
Sabina Kumari Shrestha, ibu Yunisha, mengaku berulang kali mencoba menghubungi putrinya dan suaminya. Namun, tidak satu pun panggilan tersebut tersambung.
Ayah Yunisha, Yubaraj Amatya, bahkan langsung berangkat menuju sekolah setelah mendengar kabar mengenai banjir.
"Tak lama setelah kabar banjir menyebar, saya mencoba menelepon putri saya, tetapi tidak bisa terhubung. Saat itu saya mulai merasa takut," katanya.
"Dalam beberapa menit saya langsung menuju sekolah putri saya, tetapi Pasar Trishuli sudah tersapu banjir. Saat itu saya mengira putri saya sudah tidak ada. Saya sangat terpukul. Saya menghentikan sepeda motor saya. Meski banjir sedang terjadi, saya tidak bisa membayangkan pulang tanpa putri saya."
Selama hampir satu jam, Yubaraj tidak mengetahui kondisi putrinya. Ia terus mencoba menelepon hingga akhirnya panggilannya tersambung dan Yunisha menjawab.
"Ketika akhirnya putri saya mengangkat telepon, saya tidak bisa menahan diri dan langsung menangis. Dua kerabat yang bersama saya juga ikut menangis dan memeluk saya," ujarnya.
Yunisha juga mengingat kembali percakapan emosional dengan ayahnya setelah berhasil mencapai tempat aman.
"Setelah saya berhasil mencapai puncak bukit, saya menerima telepon dari ayah saya. Beliau menangis, dan saat itu saya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun," katanya.
Keluarga Yunisha kemudian menunggu dengan penuh kecemasan hingga akhirnya ia dapat kembali ke rumah.
"Bahkan adik perempuan Yunisha tidak bisa tidur. Tetapi saya sangat lega dan bahagia ketika melihatnya kembali setelah tiga hari, pada Jumat," kata ibunya.
Setelah selamat dari bencana tersebut, Yunisha mulai memikirkan keberlangsungan pendidikannya yang ikut terdampak.
"Sekarang saya khawatir tentang kelanjutan pendidikan saya," ujarnya.
"Jika saya harus pindah sekolah, saya akan kehilangan teman-teman lama dan harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan teman baru. Saya sedih memikirkan masa depan pendidikan saya."
Sementara itu, Dawadi menilai keberadaan sistem peringatan dini yang lebih baik, seperti sirene dan informasi evakuasi yang cepat, dapat membantu masyarakat mengambil tindakan sebelum bencana mencapai permukiman.
Meski demikian, ia percaya keputusan untuk segera mengevakuasi para siswa menjadi faktor utama yang mencegah jatuhnya korban dalam jumlah jauh lebih besar.
"Seandainya saya memutuskan menutup sekolah setelah jam pelajaran berakhir, mungkin tidak akan ada yang tersisa. Yang terdengar pada pukul 09.30 hanyalah bunyi bel sekolah," katanya.
Banjir Bandang China-Nepal (Istimewa)