AS Dorong Negara G20 Tinjau Ulang Hubungan Dagang dengan China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Sep 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara di ruang konferensi pers Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, 15 April 2026. Arsip - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara di ruang konferensi pers Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, 15 April 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menyatakan akan mengajak negara-negara anggota G20 untuk mengevaluasi kembali aturan perdagangan mereka dengan China.

Menurut Bessent, langkah tersebut diperlukan untuk menekan ketimpangan ekonomi global sekaligus mendorong Beijing melakukan penyeimbangan kembali terhadap perekonomiannya. China diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dan meningkatkan konsumsi serta permintaan dari pasar domestik.

Menjelang pertemuan para Menteri Keuangan G20, Bessent mengatakan peningkatan ekspor China dalam kondisi saat ini tidak dapat terus dipertahankan. Pernyataan itu disampaikan meskipun hubungan perdagangan langsung antara AS dan China disebut sedang "meningkat dengan pesat", dikutip dari Reuters, Selasa, 1 September 2026.

"Dunia tidak bisa membiarkan China memiliki surplus perdagangan sebesar US$ 1,2 triliun (setara Rp 21.292 triliun)," cetus Bessent dalam pernyataannya.

Bessent menilai kondisi perekonomian domestik China yang relatif lemah menjadi salah satu alasan Beijing mengandalkan ekspor untuk menopang pertumbuhan ekonominya.

"Di China, perekonomiannya sedang cukup lemah, dan mereka berusaha mengatasinya melalui ekspor, dan mereka perlu menyeimbangkan kembali perekonomian mereka," ucapnya.

Baca Juga: China Hukum Mati Eks Anggota DPR karena Suap Rp1,96 Triliun

G20 sendiri merupakan forum internasional yang mempertemukan 20 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, baik negara maju maupun berkembang. Forum tersebut menjadi wadah pembahasan berbagai persoalan ekonomi dan keuangan global.

Dorongan Bessent untuk membangun respons perdagangan bersama terhadap China muncul ketika AS menghadapi persoalan hukum yang mengharuskan pemerintah menyusun kembali kebijakan tarifnya.

Penerapan tarif oleh AS sebelumnya memang berhasil menekan impor barang dari China secara signifikan. Namun, kebijakan tersebut juga menyebabkan produk-produk China membanjiri pasar di sejumlah negara lain, terutama kawasan Eropa dan Amerika Latin.

Washington telah memperketat akses berbagai produk asal China ke pasar domestiknya melalui pemberlakuan tarif tinggi. AS juga menerapkan pelarangan total terhadap sejumlah barang tertentu, termasuk kendaraan bermotor.

Bendera China <b>(Istimewa)</b> Bendera China (Istimewa)

Bessent mengatakan dirinya telah memperingatkan negara-negara industri lain sejak tahun lalu mengenai dampak yang mungkin muncul akibat membanjirnya produk impor China.

"Kini mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sangat sulit," sebutnya.

Menurut Bessent, upaya mendorong China agar mengurangi ketergantungan pada ekspor dan memperkuat permintaan domestik yang selama ini lemah tidak hanya bergantung pada Beijing. Negara-negara lain juga dinilai memiliki peran penting melalui kebijakan perdagangan masing-masing.

"Negara-negara lainnya di dunia harus meninjau kembali ketentuan perdagangan mereka dengan China," tegas Menkeu AS tersebut.

Saat ini, AS juga tengah mengupayakan lahirnya pernyataan bersama negara-negara G20 yang memuat komitmen untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan serta transaksi berjalan.

Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan mengenai upaya AS tersebut.

HIGHLIGHT

x|close