Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) menyatakan kekhawatiran atas serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang dinilai dapat memicu eskalasi berbahaya di kawasan. Serangan rudal yang mengarah ke Riyadh disebut menjadi indikasi meningkatnya ketegangan antara kedua pihak.
Dilansir dari AFP, Senin, 21 September 2026, Presiden AS Donald Trump bahkan mendatangi Gedung Putih pada Sabtu, 29 Agustus 2026 untuk membahas kemungkinan perkembangan lebih lanjut dari konflik antara Houthi dan Arab Saudi.
Namun, Gedung Putih tidak memberikan keterangan mengenai agenda Trump saat berada di Gedung Putih di tengah konflik antara Arab Saudi dan Houthi yang dinilai membuka babak ketegangan baru.
"Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat," demikian peringatan Departemen Luar Negeri AS.
Pemerintah AS juga mengimbau warga negaranya yang berada di luar kawasan Timur Tengah untuk mempertimbangkan menunda perjalanan menuju maupun melalui wilayah tersebut, seperti dikutip AFP.
Serangan Houthi terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung di Yaman dalam beberapa pekan terakhir. Kelompok tersebut menguasai sebagian wilayah Yaman, sementara rangkaian pertempuran dilaporkan telah menewaskan ratusan orang dan menyebabkan lebih dari 110 ribu warga mengungsi menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Pakistan Desak Iran Bujuk Houthi Hentikan Serangan ke Fasilitas Energi Saudi
Serangan terbaru menjadi yang pertama sejak perang saudara Yaman kembali memanas dengan ancaman yang menjangkau ibu kota Arab Saudi. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap perekonomian global yang sebelumnya telah terdampak ketegangan selama tujuh bulan antara AS dan Iran.
Warga Riyadh menerima peringatan beberapa saat sebelum pukul 03.00 waktu setempat. Mereka diminta tetap berada di dalam rumah karena adanya ancaman serangan udara.
"Wilayah ini berada di bawah ancaman serangan udara musuh," demikian bunyi pesan yang diterima warga Riyadh.
Wartawan AFP yang berada di lokasi kemudian mendengar dua kali ledakan. Status siaga yang diberlakukan badan pertahanan sipil Arab Saudi dicabut sekitar 30 menit kemudian.
"Saya mendengar bunyi alarm, lalu jendela rumah saya bergetar," ujar seorang warga Riyadh kepada AFP.
Warga lainnya menggambarkan serangan tersebut sebagai peristiwa yang "mengerikan".
Insiden tersebut berlangsung beberapa hari setelah Riyadh menuduh Houthi melancarkan serangan yang menargetkan Mekkah pada Rabu. Pemerintah Arab Saudi mengecam aksi tersebut sebagai "serangan teroris pengecut" terhadap kota suci yang setiap tahun menjadi tujuan jutaan jemaah.
Houthi membantah tuduhan tersebut. Kelompok itu menyebut klaim Arab Saudi sebagai "kebohongan".
Menurut laporan platform berita AS Axios, pemerintah AS pada pekan sebelumnya disebut menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi.
Di sisi lain, Washington pada Kamis menyetujui penjualan 48 jet tempur F-35 kepada Arab Saudi dengan nilai mencapai US$24,3 miliar. Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan tersebut ditujukan untuk membantu Riyadh menghadapi ancaman keamanan.
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)