Turki Siap Bantu Militer Arab Saudi Hadapi Serangan Houthi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Sep 2026, 09:04
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Turki menyatakan kesiapannya memberikan bantuan kepada Arab Saudi yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi sasaran serangan kelompok Houthi dari Yaman.

Dilansir dari Anadolu, Selasa, 22 September 2026, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Ankara terbuka untuk menyediakan sejumlah perlengkapan militer apabila Riyadh membutuhkan bantuan. 

"Kami melihat ada serangan yang sangat serius terhadap integritas teritorial dan kedaulatan Arab Saudi. Kami memiliki perjanjian aliansi dalam pakta kami. Kami sangat solid dalam hal ini," kata Fidan.

Fidan menyebut kebutuhan Saudi kemungkinan mencakup sejumlah perangkat militer, khususnya untuk mendukung aspek teknis pertahanan.

"Mereka mungkin punya beberapa kebutuhan militer, terutama pada beberapa masalah teknis. Kami tidak akan keberatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut," lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

Pakta yang dimaksud Fidan adalah "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah". Kesepakatan yang menyerupai mekanisme pertahanan kolektif NATO tersebut ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Agustus lalu.

Baca Juga: Riyadh Diguncang Ledakan, Pertama Sejak Konflik Saudi-Houthi Memanas

Dalam perjanjian itu, serangan terhadap salah satu negara anggota dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Ketegangan antara Saudi dan Houthi meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah serangan terhadap Bandara Sanaa pada 13 Juli yang dituding Houthi melibatkan Saudi.

Sejak saat itu, kelompok Houthi melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah wilayah dan fasilitas minyak Arab Saudi. Salah satu serangan bahkan mencapai Riyadh dan menyebabkan satu orang meninggal dunia serta sejumlah orang lainnya terluka.

Analis pertahanan Alex Afirraz Scheers mengatakan Turki kemungkinan mempertimbangkan pemberian bantuan dalam bentuk kemampuan pertahanan dan serangan, termasuk dukungan intelijen kepada Saudi dalam menghadapi Houthi.

"Dari sisi ofensif, Riyadh dapat meminta kemampuan drone dan rudal Turki yang telah terbukti dalam pertempuran... untuk memberikannya opsi serangan asimetris terhadap lokasi peluncuran Houthi, sesuatu yang bisa dibilang kurang dimiliki sejak Washington menolak permintaan dukungan langsung," katanya kepada Al Jazeera.

Amerika Serikat yang selama ini menjadi sekutu Arab Saudi diketahui menolak permintaan Riyadh untuk terlibat langsung dalam perang melawan Houthi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan telah berkomunikasi dengan kelompok Houthi.

Dalam komunikasi tersebut, Houthi disebut menyatakan tidak akan menyerang AS selama Washington tidak terlibat dalam konflik.

Asap mengepul setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa di Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026. Televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi, Senin, 13 Juli 2026, mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan udara di landasan pacu Bandara Internasi <b>(Antara)</b> Asap mengepul setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa di Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026. Televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi, Senin, 13 Juli 2026, mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan udara di landasan pacu Bandara Internasi (Antara)

Sementara itu, peneliti senior King's College London, Nawaf Obaid, mengatakan Arab Saudi bersama negara-negara sekutunya tengah mempersiapkan kemungkinan respons militer secara terkoordinasi terhadap serangan Houthi.

"Ada koalisi yang terbentuk seputar ancaman tersebut mengenai bagaimana cara yang tepat untuk menanggapi apa yang telah dilakukan Houthi," kata Obaid kepada Al Jazeera.

Menurut Obaid, respons tersebut "akan berurutan, sangat besar, dan mencakup darat, laut, serta udara".

Pakistan, yang juga menjadi bagian dari pakta Mekkah, menyatakan sejauh ini belum ada pembicaraan mengenai langkah militer Islamabad sebagai respons terhadap serangan Houthi ke Arab Saudi.

Meski demikian, Pakistan menegaskan akan mengambil tindakan ketika "saatnya tiba".

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sebelumnya mengatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi berpotensi mengaktifkan ketentuan dalam pakta pertahanan tersebut.

"Kami terikat oleh syarat dan ketentuan perjanjian ini," katanya dalam wawancara pada 8 September 2026.

TERKINI

Dinkes DKI: Kasus ISPA di Jakarta Mengalami Peningkatan

Metro Selasa, 22 Sep 2026 | 10:01 WIB

2 Jenderal Top Militer China Dipceat terkait Dugaan Korupsi

Luar Negeri Selasa, 22 Sep 2026 | 09:53 WIB

Australia Bidik Kursi DK PBB Periode 2029-2030

Luar Negeri Selasa, 22 Sep 2026 | 09:47 WIB

Dituding Sayap PKI, GMNI Lapor Bareskrim

News Selasa, 22 Sep 2026 | 09:21 WIB

Trump Sebut Media AS Jadi Ancaman Keamanan Nasional

Luar Negeri Selasa, 22 Sep 2026 | 09:17 WIB
Load More
x|close